KESEHATAN

Nestapa Keluarga asal Morut Ditagih Biaya Berobat Rp42 Juta setelah Kehilangan Mata Kanan

5
×

Nestapa Keluarga asal Morut Ditagih Biaya Berobat Rp42 Juta setelah Kehilangan Mata Kanan

Sebarkan artikel ini
Pelajar asal Morut ini harus kehilangan mata kanannya. Saat selesai berobat, ia dan keluarganya dihadapkan persoalan biaya pengobatan seebsar Rp42 juta. (Foto: IST).
Pelajar asal Morut ini harus kehilangan mata kanannya. Saat selesai berobat, ia dan keluarganya dihadapkan persoalan biaya pengobatan seebsar Rp42 juta. (Foto: IST).

MOROWALI UTARA — Tangis dan kebingungan menyelimuti keluarga seorang pelajar asal Desa Korompeli, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara, setelah anak mereka harus kehilangan mata kanan akibat terkena tembakan senapan angin.

Pelajar berinisial A, siswi kelas III SMK, kini harus menjalani kehidupan dengan satu mata setelah mengalami insiden saat bermain bersama rekannya. Di tengah proses pemulihan pascaoperasi, keluarga justru dihadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang disebut mencapai sekitar Rp42 juta.

A sebelumnya menjalani perawatan hingga operasi pengangkatan mata kanan di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar. Korban dirujuk dari Morowali Utara menggunakan ambulans rujukan dan didampingi perawat dari RSUD Kolonodale.

Menurut keterangan keluarga, mereka sebelumnya mendapat informasi bahwa biaya pengobatan korban akan ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Namun, persoalan muncul ketika keluarga hendak membawa korban pulang setelah menjalani operasi.

Keluarga mengaku diberitahukan adanya kewajiban pembayaran dengan rincian sementara sekitar Rp42 juta. Mereka juga disebut diberikan waktu hingga Jumat (14/8/2026) untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Kondisi tersebut membuat keluarga korban kebingungan karena tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Mastin Lamato, tante korban yang berada di RSUD Wahidin Sudirohusodo, mengatakan keluarga sebelumnya berharap seluruh biaya pengobatan dapat ditanggung BPJS Kesehatan karena korban datang melalui mekanisme rujukan.

“Sebenarnya keluar hari ini, tapi kendala soal pembayarannya yang kami harap ditanggung BPJS, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Rincian sementara sekitar Rp42 juta,” ujar Mastin, Kamis (13/8/2026).

Ia menjelaskan, korban dibawa menggunakan ambulans rujukan dari Morowali Utara dan didampingi tenaga kesehatan dari RSUD Kolonodale.

“Kami diantar ambulans rujukan dari Morowali Utara dan juga didampingi sama suster pendamping. Disampaikan ke kami ditanggung BPJS Kesehatan,” lanjutnya.

Persoalan tersebut semakin berat bagi keluarga karena mereka masih harus menghadapi dampak dari insiden yang menyebabkan korban kehilangan mata kanannya.

Keluarga berharap pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dapat membantu mencarikan solusi atas persoalan pembiayaan tersebut.

“Kalau bisa bantu dulu kami, Pak. Sampaikan ke Pak Gubernur Sulteng dan Pak Bupati Morowali Utara. Kami diberikan waktu sampai besok. Kami punya kemenakan sudah kehilangan mata, sekarang kami menghadapi pergumulan, di mana mau ambil uang sebanyak itu,” ungkap Mastin.

Ia bahkan mengaku keluarga tidak menyangka persoalan biaya akan muncul setelah korban menjalani operasi.

“Kalau kami tahu begini, kami tidak akan operasi,” katanya.

Sementara itu, orang tua dari pelaku penembakan yang sebelumnya telah sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan juga tengah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RSUD Kolonodale.

Mereka mengaku masih mencari kejelasan mengenai proses rujukan korban, terlebih keluarga menyebut telah memperoleh informasi bahwa biaya pengobatan akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Kasus ini bermula ketika A bermain bersama rekannya menggunakan senapan angin. Senapan tersebut sempat dianggap tidak memiliki peluru. Namun, senapan ternyata masih mampu melontarkan proyektil hingga mengenai mata kanan korban.

Akibat kejadian tersebut, korban harus mendapatkan perawatan medis dan akhirnya menjalani operasi pengangkatan mata kanan di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Dalam proses administrasi pengobatan, keluarga juga sempat diminta menyiapkan kronologis kejadian oleh pihak BPJS Kesehatan. Keluarga kemudian berkoordinasi dengan Polsek Lembo dan diarahkan ke SPKT Polres Morowali Utara.

Pihak kepolisian selanjutnya menerbitkan kronologis kejadian yang diharapkan dapat membantu proses administrasi pengobatan korban.

Bagi keluarga A, persoalan tersebut bukan hanya mengenai angka Rp42 juta. Mereka masih berusaha menerima kenyataan bahwa seorang anak yang sebelumnya menjalani aktivitas seperti biasa kini harus kehilangan mata kanannya akibat insiden tersebut.

Keluarga berharap ada jalan keluar sehingga korban dapat segera kembali ke Morowali Utara tanpa terbebani persoalan biaya yang belum terselesaikan.

 

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi para orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama ketika mereka beraktivitas menggunakan benda yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Kolonodale maupun pihak terkait mengenai status penjaminan BPJS dan rincian tagihan sekitar Rp42 juta yang disampaikan kepada keluarga korban.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *