RELIGIUS

Prof Zainal Abidin: Maulid Nabi Jadi Momentum Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Paksaan

×

Prof Zainal Abidin: Maulid Nabi Jadi Momentum Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Paksaan

Sebarkan artikel ini
Prof Zainal Abidin: Maulid Nabi Jadi Momentum Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Paksaan
Prof Zainal Abidin tegaskan keteladanan adalah jalan Rasulullah SAW. (Foto: Dok.)

PALU – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum spiritual yang penting bagi umat Islam untuk kembali membumikan ajaran luhur Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan Maulid, menurut tokoh moderasi beragama nasional Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Maulid Nabi di Lembontonara, Ketua PHBI Morut Serahkan Bantuan dan Kukuhkan Pengurus

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah itu menegaskan bahwa salah satu hakikat utama diutusnya Rasulullah adalah membawa kasih sayang dan rahmat bagi seluruh alam.

Karena itu, cara berdakwah umat Islam juga harus mencerminkan spirit kenabian yang mengedepankan kelembutan, keteladanan, dan kedamaian.

“Nabi mengajarkan kita cara dakwah terbaik. Dengan memberikan contoh dan keteladanan, bukan dengan cara memaksa dan kekerasan. Dan cara seperti inilah yang harus dilestarikan sehingga Islam rahmatan lil alamin benar-benar dirasakan,” tegas Prof. Zainal Abidin.

Baca Juga: Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-5 Habib Saggaf, Anwar Hafid Kenang Pesan Sang Ulama

Guru Besar UIN Datokarama Palu tersebut menjelaskan, dakwah Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW dibangun di atas pijakan hikmah, kelembutan, serta keluhuran akhlak.

Menurutnya, pendekatan tersebut harus terus dijaga dan diwariskan oleh para dai, ulama, serta seluruh umat Islam sebagai pewaris tugas kenabian.

Ia mengingatkan agar penyiaran ajaran agama tidak dilakukan melalui intimidasi maupun paksaan. Sebaliknya, keteladanan menjadi kekuatan utama dalam mengajak masyarakat menuju kebaikan.

Baca Juga: Ketua MUI Palu Kupas Buku KH. Ma’ruf Amin, Tekankan Fondasi Intelektual Nahdlatul Ulama

Ketua Asosiasi FKUB Indonesia itu juga mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum otokritik.

Setiap Muslim, kata dia, perlu mengukur sejauh mana nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah benar-benar telah diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Rais Syuriyah PBNU tersebut menekankan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk menghargai setiap bentuk kebaikan, sekecil apa pun, serta melarang sikap meremehkan dan menghina orang lain.

Baca Juga: Membludak, Ngopi Kerukunan FKUB Sulteng dan WVI Satukan Tokoh Lintas Sektor

“Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menghargai setiap kebaikan sekecil apa pun dan melarang kita meremehkan atau menghina orang lain. Kunci dakwah Nabi ada pada keluhuran akhlak dan ketulusan hati,” ujarnya.

Bagi Prof. Zainal Abidin, pesan-pesan keteladanan Nabi Muhammad SAW juga memiliki relevansi besar dalam menjaga kemajemukan bangsa Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah yang dihuni masyarakat dengan latar belakang agama, suku, dan budaya yang beragam.

Nilai saling menghormati, kepedulian sosial, persaudaraan, serta semangat memanusiakan sesama diyakini menjadi fondasi penting dalam memperkuat kerukunan di tengah masyarakat.

Baca Juga: Satu Abad Bala Keselamatan di Palu, FKUB Sulteng Apresiasi Konsistensi Pelayanan Sosial

Sebagai Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Zainal berharap semangat Maulid Nabi dapat menjadi energi bersama untuk terus merawat perdamaian dan memperkuat persaudaraan lintas kelompok di daerah.

“Kita jadikan Maulid Nabi ini sebagai pendorong untuk memperkuat persaudaraan, merawat kedamaian, dan memanusiakan sesama di Sulawesi Tengah,” demikian pesan Prof. Zainal Abidin.***