OPINI

KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT

×

KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT

Sebarkan artikel ini
KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT
Kebakaran hutan di Kalimantan, kini menjadi perhatian dunia. (Foto: Creative AI).

Ketika “Cinta Pertama dan Terakhir” Turun Melawan Asap

Penulis: Ari Loru

Ada sesuatu yang getir dari Kalimantan hari ini. Langitnya tidak hanya menyimpan awan, tetapi kepulan asap. Hutan terbakar, udara memburuk, satwa kehilangan rumah, dan anak-anak harus belajar dari rumah.
Sebuah bencana yang awalnya terlihat seperti persoalan daerah, perlahan telah menjadi perhatian lintas batas.

Data Kementerian Kehutanan yang dikutip Reuters menunjukkan sekitar 202.010 hektare lahan terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026. Angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap hektare ada pohon yang tumbang, habitat yang hilang, tanah yang terluka, dan udara yang berubah menjadi ancaman bagi manusia.

Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang paling terpukul. Titik panas meningkat tajam, sementara kebakaran di lahan gambut membuat persoalan semakin sulit ditangani. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menjadi akhir dari kebakaran, sebab bara dapat bertahan di bawah tanah dan kembali menyala.

Baca Juga: Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan

Dan ketika asap mulai bergerak melewati batas negara, kita tidak bisa lagi menyebutnya semata-mata persoalan Indonesia. Kabut asap dari kebakaran di Kalimantan telah berdampak hingga wilayah Borneo Malaysia. Asap ternyata tidak mengenal paspor, tidak mengenal garis pada peta, dan tidak berhenti hanya karena sebuah negara mengatakan: “Ini wilayah kami.”

Di titik inilah karhutla berubah menjadi persoalan internasional. Ia menyentuh kesehatan manusia, pendidikan, lingkungan, hubungan antarnegara, ekonomi, bahkan wajah Indonesia di mata dunia. Sebab ketika udara yang tercemar menyeberangi perbatasan, persoalan lokal telah berubah menjadi persoalan regional.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia. Reuters melaporkan, seekor orangutan sekitar 20 tahun ditemukan dalam kondisi lemah di Kalimantan Barat, diduga mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap tebal. Ia kemudian mendapat oksigen dan perawatan medis. Hingga saat itu, tim penyelamat telah mengevakuasi sejumlah orangutan akibat kebakaran.

Baca Juga: Merdeka Di Atas Luka Bangsa

Ada sesuatu yang ironis di tengah tragedi itu.

Seorang penyanyi bernama Sherina Munaf turun langsung ke Kalimantan Tengah. Bukan untuk konser. Bukan untuk bernyanyi di atas panggung. Ia datang ketika hutan sedang terbakar dan manusia sedang berjuang mendapatkan udara yang layak.

Sherina bahkan merasakan sendiri bagaimana asap menyambut perjalanannya menuju Palangka Raya. Dari udara, kepulan asap terlihat. Di perjalanan, bau asap terasa. Dan di lapangan, persoalan yang selama ini hanya kita lihat melalui layar, berubah menjadi sesuatu yang bisa disentuh, dirasakan, dan dihirup.

Ada ironi yang indah sekaligus menyakitkan.

Sherina dikenal sebagai penyanyi. Suaranya tumbuh bersama lagu-lagu tentang masa kecil, persahabatan, dan cinta. Tetapi hari ini, seorang penyanyi lagu cinta datang ke sebuah tempat yang sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih tua daripada kisah cinta manusia: hutan sebagai rumah kehidupan.

Baca Juga: Saatnya Momentum Reformasi Rekonsiliasi DBH

Maka jangan berhenti pada kalimat, “Sherina keren.”

Pertanyaan yang lebih penting justru: Mengapa hutan kita terus terbakar?

Sebab artis bisa datang membantu. Relawan bisa turun. Petugas bisa bekerja siang dan malam. Tetapi persoalan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan hanya dengan memadamkan api setelah semuanya terlanjur terbakar.

Negara harus bekerja lebih jauh daripada sekadar memadamkan. Harus ada pencegahan, pengawasan, pemulihan, dan penegakan hukum. Pemerintah juga telah memeriksa 19 perusahaan yang wilayah konsesinya ditemukan memiliki kebakaran, dengan area terdampak sekitar 11.047 hektare. Pemeriksaan tentu bukan berarti kesalahan telah terbukti, tetapi publik berhak mengetahui hasilnya secara terbuka.

Baca Juga: Ancaman Karhutla di Sulteng, Pencegahan Berbasis Desa

Siapa yang bertanggung jawab?

Siapa yang lalai?

Siapa yang harus memulihkan?

Dan yang paling penting: Apakah hukum benar-benar berani berdiri ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi yang besar?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak boleh hilang bersama asap.

Sebab terlalu mudah menyalahkan masyarakat kecil setiap kali hutan terbakar. Yang jauh lebih sulit adalah memastikan semua pihak yang terbukti melanggar siapa pun mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hukum lingkungan tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Kita juga harus memahami bahwa cuaca kering dapat memperbesar risiko kebakaran. Tetapi kondisi kering tidak boleh dijadikan alasan untuk menghapus tanggung jawab manusia. Sebab ketika api lahir dari kelalaian, kesengajaan, atau buruknya pengelolaan lahan, alam tidak seharusnya dijadikan kambing hitam.

Baca Juga: Cegah Karhutla, Kapolda Sulteng Terbitkan Maklumat Tegas Larangan Bakar Hutan dan Lahan

Dan mungkin di sinilah lagu “Cinta Pertama dan Terakhir” menemukan makna yang berbeda.

Selama ini, cinta kita pahami sebagai hubungan antara manusia dengan manusia. Tetapi bagaimana jika cinta pertama kita adalah tanah tempat kaki pertama kali berpijak?

Bagaimana jika cinta terakhir kita adalah bumi yang suatu hari kita tinggalkan kepada anak-anak?

Cinta tanah air tidak cukup diucapkan ketika upacara. Tidak cukup ditulis di spanduk. Tidak cukup diteriakkan ketika kamera menyala.

Cinta tanah air juga berarti menjaga tanahnya, airnya, hutannya, dan udara yang dihirup oleh mereka yang bahkan belum lahir.

Sherina mungkin tidak mampu memadamkan seluruh api Kalimantan.

Baca Juga: Wakapolda Sulteng Instruksikan Pencegahan Karhutla hingga Pengungkapan Maksimal Kasus Pembunuhan di Duyu

Tetapi kehadirannya mengajarkan satu hal sederhana: kepedulian harus dimulai dari keberanian untuk datang dan melihat sendiri.

Dan ketika seorang artis telah datang melihat luka itu dari dekat, negara seharusnya datang lebih jauh—membawa kebijakan, pengawasan, ketegasan, dan hukum.

Sebab ketika api padam, pekerjaan belum selesai.

Hutan harus dipulihkan. Lahan gambut harus dijaga. Satwa harus diselamatkan. Masyarakat harus kembali menghirup udara bersih. Anak-anak harus kembali ke sekolah tanpa takut asap.

Yang terbakar dalam hitungan hari bisa membutuhkan puluhan tahun untuk pulih.

Maka jangan biarkan aksi Sherina hanya menjadi berita sehari. Jangan biarkan Kalimantan hanya ramai ketika asap memenuhi media sosial.

Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Sebab ketika kamera pergi, Kalimantan tetap tinggal dengan lukanya. Ketika pemberitaan berganti, hutan tetap membutuhkan perlindungan.

Dan ketika dunia berhenti melihat, bara masih mungkin menyala di bawah tanah. Kalimantan hari ini sedang mengajarkan kita satu hal sederhana: rumah yang kita cintai tidak cukup hanya dipuji. Ia harus dijaga.

Sherina datang membawa suara kepedulian.

Kini giliran kita bertanya kepada negara: Berapa lama lagi Indonesia akan membiarkan rumahnya terbakar sebelum benar-benar belajar menjaganya?

Sebab pada akhirnya, Cinta Pertama dan Terakhir bukan hanya tentang seseorang yang kita pilih untuk dicintai.

Baca Juga: MOHAMMAD IRWAN IS BACK

Ia bisa tentang tanah yang melahirkan kita.

Hutan yang memberi kita napas.

Dan bumi yang suatu hari akan kita wariskan.

Jangan sampai yang kita wariskan kepada anak-anak hanyalah cerita tentang hutan yang pernah ada. (*)

Sumber Data dan Referensi

1. Reuters — 30 Agustus 2026, Orangutan rescued from fire zone in Indonesia’s Borneo, battles respiratory illness. Data luas kebakaran Januari–Juli 2026 serta dampak karhutla terhadap orangutan dan kesehatan.

2. Reuters — 31 Agustus 2026, Indonesia inspects 19 companies linked to wildfires, official says. Data pemeriksaan perusahaan yang konsesinya terdampak kebakaran.

3. Reuters — 21 Agustus 2026, Indonesia prioritises Kalimantan as region wildfire hotspots rise. Data mengenai peningkatan titik panas dan fokus penanganan di Kalimantan.

4. Reuters — 2 September 2026, Wildfire haze forces 1.4 million Indonesian students into remote learning. Data mengenai dampak kabut asap terhadap kegiatan pendidikan.

5. Al Jazeera — 1 September 2026, Toxic haze from Indonesian fires chokes Malaysian Borneo. Referensi mengenai dampak kabut asap Indonesia terhadap wilayah Borneo Malaysia dan sifat lintas batas karhutla.

6. detikKalimantan — 2 September 2026, laporan mengenai kedatangan Sherina Munaf ke Kalimantan Tengah dan pengalamannya menghadapi kondisi asap secara langsung.

7. detikHot — 2 September 2026, laporan mengenai keterlibatan Sherina dalam membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.