PENDIDIKAN

Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan

×

Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan

Sebarkan artikel ini
Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan
Salah satu novel yang ditulis Tere Liye. (Foto: IST).

Catatan tentang Novel Pertama yang Membuatku Jatuh Cinta pada Cerita

Penulis: Ari Loru

Di sudut kamar sempit, kurang lebih berukuran tiga kali enam meter, di antara tumpukan buku mata kuliah yang dulu begitu serius kubaca demi mengejar nilai, terselip satu buku yang entah mengapa justru paling lama tinggal dalam ingatan.

Sampulnya sederhana. Tidak setebal buku-buku kuliah. Tetapi dari sanalah untuk pertama kalinya aku mengenal bahwa sebuah buku tidak selalu datang untuk mengajarimu rumus, teori, atau definisi. Ada buku yang datang untuk mengajarimu tentang hati.

Buku itu adalah novel pertama yang kubaca: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye.

Baca Juga: Merdeka Di Atas Luka Bangsa

Aku tidak tahu persis apa yang membuatku mengambilnya ketika itu. Mungkin karena judulnya terdengar asing. Mungkin karena aku penasaran bagaimana mungkin sebuah daun bisa jatuh tanpa membenci angin yang membuatnya terlepas dari tempat ia bertumbuh.

Tetapi setelah halaman demi halaman kubaca, aku sadar: yang sedang diceritakan bukan tentang daun.

Yang sedang diceritakan adalah manusia.

Tentang seseorang yang tumbuh bersama luka. Tentang seseorang yang mencintai tanpa pernah benar-benar tahu apakah cintanya akan menemukan tempat untuk pulang. Tentang perasaan yang tumbuh diam-diam, lalu menjadi begitu besar hingga sulit dibedakan antara harapan dan kenyataan.

Baca Juga: Senyum Chiki Fawzi Penalar Luka Tamiang

Dan mungkin, tanpa kusadari ketika itu, novel tersebut sedang memperkenalkanku kepada satu kenyataan sederhana: hidup tidak selalu memberikan apa yang paling kita inginkan.

Di dalam kisah Tania, aku menemukan seorang anak yang tumbuh dari keadaan yang tidak mudah. Kehadiran Danar membawa sesuatu yang berbeda dalam hidupnya. Ada pertolongan, perhatian, rasa aman, dan sebuah kekaguman yang perlahan tumbuh seiring waktu.

Tetapi waktu memang sering kali menjadi tempat paling rumit bagi perasaan manusia.

Sebab anak kecil bisa tumbuh menjadi perempuan dewasa, dan kekaguman bisa berubah menjadi cinta.

Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Tania kemudian berhadapan dengan perasaan yang tidak sederhana. Ia mencintai Danar. Tetapi mencintai seseorang ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi milik kita.

Di situlah cerita mulai menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kisah percintaan.

Ia berbicara tentang menerima.

Ada kalanya kita mencintai seseorang dengan seluruh kemampuan hati, tetapi kehidupan mempunyai jalan yang berbeda.

Ada Ratna.

Ada pilihan.

Ada jarak.

Baca Juga: MOHAMMAD IRWAN IS BACK

Dan ada kenyataan bahwa orang yang kita cintai memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Barangkali inilah bagian yang paling dekat dengan kehidupan manusia.

Kita sering berpikir bahwa jika sudah mencintai dengan tulus, maka kita pantas mendapatkan akhir yang kita inginkan.

Padahal hidup tidak pernah membuat janji seperti itu.

Kita boleh mencintai dengan seluruh hati, tetapi orang lain tetap mempunyai hak untuk memilih jalannya sendiri.

Tania tumbuh. Ia belajar. Ia melihat dunia yang lebih luas. Namun ada satu perasaan yang tidak mudah pergi hanya karena jarak dan waktu.

Baca Juga: Arus Perhatian: Posisi Politik Baru

Sebab beberapa nama tidak tinggal di kepala.

Mereka tinggal di tempat yang lebih sulit dijangkau: hati.

Dan hati adalah tempat yang aneh.

Ia bisa menyimpan seseorang bertahun-tahun tanpa meminta izin kepada logika.

Ia bisa mengingat satu senyum ketika ribuan wajah lain telah dilupakan.

Ia bisa tetap berharap, bahkan ketika akal sehat berkali-kali mengatakan bahwa harapan itu mungkin tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Tania akhirnya belajar bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki.

Kadang cinta justru mengajarkan kita untuk melepaskan.

Bukan karena kita sudah tidak peduli.

Baca Juga: Saatnya Momentum Reformasi Rekonsiliasi DBH

Tetapi karena kita sadar bahwa mencintai seseorang juga berarti menghormati kebebasannya untuk menentukan hidupnya sendiri.

Di titik itulah judul novel ini terasa begitu indah.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.

Daun tidak menyalahkan angin karena membuatnya meninggalkan dahan. Ia hanya mengikuti perjalanan yang tidak pernah benar-benar ia rencanakan.

Bukankah manusia juga sering seperti itu?

Kita pernah kehilangan.

Pernah ditinggalkan.

Pernah gagal mendapatkan sesuatu yang begitu kita inginkan.

Dan pada saat itu, kita mengira hidup sedang berlaku tidak adil kepada kita.

Padahal mungkin, kita hanya belum mengetahui ke mana angin sedang membawa kita.

Novel ini mengajarkanku bahwa menerima bukan berarti tidak terluka.

Baca Juga: Oma Opa Madamba Semakin Ceria dan Happy Rayakan HUT ke-81 RI

Kita tetap boleh menangis.

Tetap boleh kecewa.

Tetap boleh bertanya mengapa.

Tetapi setelah semua pertanyaan itu selesai, ada satu pekerjaan yang harus dilakukan manusia: berdamai dengan kenyataan.

Sebab hidup terlalu singkat jika seluruh umur kita habiskan untuk membenci sesuatu yang sudah berlalu.

Orang yang pergi, biarlah menjadi bagian dari perjalanan.

Cinta yang tidak sampai, biarlah menjadi kenangan.

Luka yang pernah ada, biarlah menjadi guru.

Baca Juga: Mesir Terancam Sanksi FIFA usai Tuduh Argentina Diuntungkan di Piala Dunia 2026

Bukan untuk membuat kita pahit, tetapi untuk membuat kita lebih mengerti bagaimana rasanya menjadi manusia.

Kini, ketika mengingat kembali novel itu, aku tidak hanya mengingat Tania, Danar, atau perjalanan kisah mereka.

Aku mengingat sebuah kamar kecil.

Tiga kali enam meter.

Tumpukan buku kuliah.

Dan sebuah novel yang diam-diam membuka pintu menuju dunia yang sebelumnya tidak kukenal.

Dunia tempat kata-kata ternyata bisa membuat seseorang menangis.

Mungkin itulah alasan sebuah buku kadang lebih sulit dilupakan daripada sebuah pelajaran.

Baca Juga: Mewarnai dan Kwartet Bertema Lingkungan, Meriahkan HUT ke-81 RI di Desa Oncone

Pelajaran mengajarkan apa yang harus kita ketahui.

Tetapi cerita mengajarkan apa yang harus kita rasakan.

Dan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin adalah salah satu cerita yang pernah membuatku mengerti bahwa tidak semua kejatuhan harus disesali.

Ada daun yang jatuh karena angin.

Ada manusia yang jatuh karena cinta.

Ada pula manusia yang harus jatuh terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan tempat untuk tumbuh kembali.

Kita tidak pernah tahu.

Baca Juga: Cuaca Panas, Jangan Tambah Pemicu! 6 Makanan Ini Bisa Membuat Berkeringat

Sebab hidup memang tidak memberikan seluruh jawabannya di awal perjalanan.

Maka ketika hari ini aku kembali mengingat novel pertama yang pernah kubaca, aku tidak lagi hanya melihatnya sebagai sebuah buku lama yang pernah terselip di antara buku-buku kuliah.

Aku melihatnya sebagai sebuah pintu.

Pintu kecil menuju dunia kata-kata.

Dunia yang kelak membuatku percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menyusun kalimat.

Menulis adalah tentang menyimpan sesuatu yang pernah kita rasakan agar ia tidak benar-benar hilang.

Dan mungkin, seperti daun yang jatuh, kita semua sedang menjalani perjalanan yang sama.

Baca Juga: Kisah Cinta Ketua Harian PSI Ahmad Ali dan Istri: Berawal dari Pengajian di Poso, Saksi Pernikahan Prof Aminuddin Ponulele

Ada waktunya tumbuh.

Ada waktunya bertahan.

Ada waktunya kehilangan.

Dan ada waktunya jatuh.

Kita tidak selalu bisa memilih arah angin.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana cara menerima kejatuhan.

Sebab pada akhirnya, daun tidak pernah membenci angin.

Dan mungkin manusia pun tidak harus membenci kehidupan hanya karena pernah dibuat jatuh olehnya.

Barangkali, setelah semua yang terjadi, kita hanya perlu berdiri kembali.

Baca Juga: Green Day Bisa Bawa ‘American Idiot’ ke Layar Lebar, Tre Cool Beri Sinyal Mengejutkan

Menatap ke atas.

Lalu berkata kepada diri sendiri:

“Terima kasih pernah membawaku sejauh ini.”

Karena ternyata, beberapa buku tidak hanya selesai ketika halaman terakhirnya ditutup.

Ada buku yang justru baru mulai bercerita setelah kita selesai membacanya. (*)