PALU – Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Palu menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor PWNU Sulawesi Tengah, Sabtu (12/9) malam.
Peringatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingat keteladanan Rasulullah SAW sekaligus mengajak umat Islam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: PHBI Morowali Utara Salurkan Bantuan ke Masjid di Lemboraya
Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zainal Abidin, dalam tausiahnya menekankan pentingnya menghidupkan dan mengembangkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan umat. Menurutnya, ajaran tersebut harus mampu menjadi pedoman, termasuk ketika masyarakat menghadapi perbedaan pandangan.
Ketua MUI Kota Palu itu mengingatkan bahwa perbedaan pendapat tidak semestinya menjadi alasan bagi masyarakat untuk saling bertikai. Perbedaan, kata dia, merupakan sesuatu yang telah ada sejak dahulu dan dapat disikapi dengan tetap menjaga persatuan.
Ia mencontohkan para ulama terdahulu yang tetap mampu mempertahankan persaudaraan meskipun memiliki perbedaan pandangan dalam memahami berbagai persoalan, khususnya yang berkaitan dengan keagamaan.
Baca Juga: Peringatan Maulid Nabi di Sekretariat PSI Sulteng Berlangsung Khidmat
Menurut KH Zainal Abidin, penerapan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan bermasyarakat juga tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Selama tidak keluar dari koridor syariat, kondisi sosial dan budaya tersebut dapat menjadi bagian dari cara umat menjalankan kehidupan bersama.
Dalam tausiahnya, KH Zainal Abidin juga menyampaikan pandangan mengenai sumber konflik yang kerap muncul dalam kehidupan manusia. Menurutnya, persoalan terbesar tidak semata-mata terjadi karena perbedaan antaragama.
Ia menilai konflik justru dapat muncul ketika seseorang terlalu mencintai tafsir dan identitas kelompoknya hingga mengabaikan kebenaran serta nilai kemanusiaan.
Baca Juga: Dua Orang Sumbang Majelis Taklim Kolonodale Rp150 Juta di Peringatan Maulid Nabi
“Konflik terbesar ternyata bukanlah antaragama yang satu dengan agama lain. Konflik terbesar ketika manusia lebih mencintai tafsirnya daripada kebenaran, lebih mencintai identitas kelompoknya daripada sesama manusia. Saat itulah agama berubah dari cahaya menjadi senjata,” katanya.
Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai landasan dalam membangun kehidupan yang damai. Sikap saling menghormati dan kemampuan menerima perbedaan dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat.
KH Zainal Abidin menegaskan bahwa kekuatan iman tidak semestinya ditunjukkan melalui suara yang keras ataupun sikap yang mudah menyalahkan orang lain.
Baca Juga: Prof Zainal Abidin: Maulid Nabi Jadi Momentum Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Paksaan
Sebaliknya, menurut dia, keimanan dapat tercermin dari ketenangan, kemampuan menghormati perbedaan, serta kesanggupan untuk tidak mudah membenci sesama.
“Orang yang imannya kuat tidak selalu paling keras suaranya, justru yang paling tenang. Paling mampu menghormati perbedaan dan paling sulit membenci orang lain, karena ia percaya kebenaran tidak membutuhkan teriakan untuk tetap menjadi kebenaran,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti peringatan Maulid Nabi yang digelar PCNU Kota Palu. Momentum Maulid tidak hanya dimaknai sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai persatuan, toleransi, kedamaian, dan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui keteladanan Rasulullah SAW, umat diharapkan mampu menghadapi perbedaan tanpa menjadikannya sebagai sumber perpecahan. Persatuan dan sikap saling menghormati menjadi modal penting untuk menciptakan kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman.***













