OPINI

Prabowo, Buku dan Isi Kepala: Ketika Pikiran Harus Dilawan dengan Pikiran

×

Prabowo, Buku dan Isi Kepala: Ketika Pikiran Harus Dilawan dengan Pikiran

Sebarkan artikel ini
Prabowo, Buku dan Isi Kepala: Ketika Pikiran Harus Dilawan dengan Pikiran
Presiden Prabowo Subianto di ruang kerjanya di rumah Hambalang, yang dipenuhi buku-buku bacaan. (Foto: Creative AI).

Penulis: Ari Loru

DUA belas tahun lalu, tepatnya pada 2014, saya pertama kali masuk ke bilik suara. Usia saya baru saja meninggalkan bangku sekolah menengah atas. Itulah pertama kalinya saya memilih kepala negara.

Saya datang ke Pemilu dengan pengetahuan politik yang tentu belum seberapa. Tetapi Pemilu 2014 meninggalkan satu pelajaran yang sampai hari ini masih saya ingat: politik ternyata bukan hanya tentang memilih siapa yang kita percaya. Politik juga bisa membuat masyarakat terbelah.

Pertarungan Prabowo-Hatta dengan Jokowi-Jusuf Kalla saat itu menghadirkan dua blok besar: Koalisi Merah Putih (KMP) di satu sisi dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) di sisi lainnya. Perseteruan kedua kubu bahkan berlanjut ke parlemen setelah pemilu.

Baca Juga: Merdeka Di Atas Luka Bangsa

Di tengah suasana politik seperti itulah saya mulai mengenal Prabowo lebih jauh.

Saya masih mengingat bagaimana Anis Matta, yang ketika itu menjadi Presiden PKS, membaca pertarungan politik pasca-Pemilu 2014 sebagai pertarungan gagasan dan orientasi politik. Dalam pemberitaan yang merujuk pada pernyataannya, Anis menyebut KMP sebagai koalisi konservatif dan kubu Jokowi-JK sebagai liberal.

Bagi saya yang saat itu masih sangat muda, perdebatan tersebut membuka pintu baru dalam memahami politik.

Saya mulai melihat bahwa di balik nama, partai, koalisi dan kontestasi kekuasaan, selalu ada sesuatu yang lebih penting: pikiran.

Dari sanalah perlahan saya melihat Prabowo bukan hanya sebagai seorang kandidat yang bertarung dalam pemilu. Saya melihat ada seorang tokoh yang membawa pengalaman, gagasan dan cara pandang tertentu tentang Indonesia.

Baca Juga: KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT

Saya kemudian pernah menulis dalam hati saya sendiri: Prabowo adalah tokoh yang memiliki isi kepala, selain isi tas.

Kalimat itu bukan tentang kekayaan.

Bukan pula tentang jabatan.

Ia tentang satu hal yang jauh lebih sederhana: apa yang ada di kepala seseorang ketika ia berbicara tentang negara.

Dua belas tahun berlalu.

Prabowo yang dulu saya lihat sebagai kandidat dalam pertarungan politik 2014 kini telah menjadi Presiden Republik Indonesia. Ia dilantik bersama Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2024 untuk masa jabatan 2024–2029.

Namun, ada satu hal yang menarik perhatian saya belakangan ini.

Bukan pidatonya.

Bukan pakaian kenegaraannya.

Bukan pula panggung politiknya.

Tetapi buku-buku yang berada di belakangnya.

Pada September 2026, Presiden Prabowo menjalani wawancara panjang di Hambalang bersama sejumlah jurnalis dan pewawancara senior. Dalam forum yang berlangsung sekitar empat jam itu, berbagai persoalan aktual dibahas, mulai dari bencana, ketahanan pangan, ekonomi, survei, reshuffle kabinet hingga cara seorang presiden menghadapi tekanan dan mencari ruang untuk memulihkan diri.

Baca Juga: Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan

Ada sesuatu yang menurut saya menarik dari forum itu. Di tengah pembicaraan tentang negara yang begitu serius, muncul pula cerita tentang sisi manusia seorang presiden: tentang meditasi di air dan tentang buku.

Di titik ini saya teringat satu hal. Seorang presiden ternyata juga manusia yang membaca. Dan membaca bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu.

Di Hambalang, Prabowo memiliki perpustakaan pribadi dua lantai yang dipenuhi ribuan buku. Koleksinya mencakup sejarah perang, filsafat, politik, ekonomi hingga kuliner. Perpustakaan tersebut juga menjadi tempat Prabowo bekerja, berdiskusi, menerima tamu dan menyusun gagasan.

Saya kira, ada cara sederhana untuk mengenal seorang manusia: lihat apa yang ia baca.

Sebab buku sering kali menjadi percakapan paling sunyi antara seseorang dengan pikirannya sendiri.

Kita mungkin tidak selalu sepakat dengan apa yang dibaca seseorang. Kita bahkan boleh berbeda dengan kesimpulan yang ia ambil dari bacaannya.

Tetapi dari buku, setidaknya kita tahu bahwa pikiran tidak lahir dari ruang kosong.

Ia tumbuh dari pengalaman.

Dari perenungan.

Dari sejarah.

Dari kesalahan.

Dari percakapan.

Dan dari halaman-halaman yang dibaca dalam kesunyian.

Karena itu, ketika saya melihat Prabowo berbicara tentang buku dan bahkan tentang sebuah buku yang membuatnya menangis, saya tidak melihatnya semata-mata sebagai sisi sentimental seorang presiden.

Saya melihat ada sesuatu yang lebih manusiawi.

Bahwa orang yang setiap hari berhadapan dengan angka pertumbuhan ekonomi, ancaman bencana, ketahanan pangan, konflik geopolitik, kabinet dan urusan negara, pada akhirnya tetap memiliki ruang dalam dirinya untuk disentuh oleh sebuah cerita yang ia baca.

Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Di situlah saya merasa politik seharusnya kembali kepada manusia. Bukan sekadar manusia yang memilih. Tetapi manusia yang berpikir.

Sebab salah satu penyakit politik kita adalah kecenderungan untuk mengubah perbedaan pikiran menjadi permusuhan pribadi.

Ketika seseorang berbeda pendapat dengan kita, kita buru-buru menyerang orangnya.

Ketika seseorang mengkritik kebijakan, kita membalas dengan mencurigai niatnya.

Ketika seseorang mendukung pemerintah, ia dicap sebagai penjilat.

Ketika seseorang mengkritik pemerintah, ia dicurigai sebagai pembenci.

Padahal demokrasi tidak seharusnya bekerja seperti itu.

Pikiran seharusnya dilawan dengan pikiran.

Gagasan dijawab dengan gagasan.

Kebijakan diuji dengan data.

Argumentasi dibalas dengan argumentasi.

Baca Juga: Senyum Chiki Fawzi Penalar Luka Tamiang

Dan kritik seharusnya tidak kehilangan akal sehat, hanya karena ia diarahkan kepada orang yang sedang berkuasa.

Begitu pula dukungan, tidak semestinya kehilangan nalar hanya karena diberikan kepada pemimpin yang kita sukai.

Di sinilah saya kira kita perlu belajar kembali dari buku. Buku mengajarkan kita satu hal yang sederhana: kita tidak harus setuju dengan setiap halaman untuk mendapatkan sesuatu dari sebuah buku.

Begitu pula dengan seorang presiden.

Kita tidak harus sepakat dengan setiap kebijakan pemerintah untuk mengakui bahwa seorang pemimpin memiliki gagasan.

Kita juga tidak harus membenci seorang pemimpin hanya karena berbeda pandangan dengannya.

Baca Juga: Arus Perhatian: Posisi Politik Baru

Dan sebaliknya, kekaguman kepada seorang pemimpin tidak boleh membuat kita berhenti berpikir. Sebab negara terlalu besar untuk diserahkan kepada kebencian. Demokrasi terlalu berharga untuk dipenuhi caci maki.

Dan rakyat terlalu penting untuk hanya dijadikan penonton pertarungan antar-kelompok.

Saya kembali kepada 2014.

Saat pertama kali memilih, saya melihat politik sebagai pertarungan dua kubu.

Hari ini, setelah lebih dari satu dekade mengikuti perjalanan politik Indonesia, saya justru ingin melihat politik sebagai pertarungan gagasan.

Siapa pun presidennya, ia harus bisa dikritik. Siapa pun pemerintahnya, kebijakannya harus bisa diuji.

Tetapi siapa pun yang hendak mengkritik, sebaiknya datang membawa sesuatu yang lebih kuat daripada kebencian: pikiran.

Dan siapa pun yang hendak membela, sebaiknya juga membawa sesuatu yang lebih kuat daripada fanatisme: argumentasi.

Baca Juga: Saatnya Momentum Reformasi Rekonsiliasi DBH

Mungkin itulah makna paling sederhana dari demokrasi yang dewasa. Bukan tentang bagaimana membuat semua orang berpikir sama. Tetapi bagaimana kita bisa tetap duduk dalam satu ruang, berbeda pikiran, berbeda pilihan, berbeda tafsir, namun masih mampu berbicara sebagai sesama manusia.

Dari 2014 hingga 2026, perjalanan politik Prabowo telah berubah sangat jauh.

Dulu ia kandidat. Kini ia presiden.

Tetapi bagi saya, ada satu hal yang menarik untuk terus diperhatikan: apa yang terjadi di dalam kepala seorang pemimpin ketika ia berhadapan dengan begitu banyak persoalan negara.

Dan mungkin, salah satu cara memahaminya adalah dengan melihat buku-buku yang ia baca. Sebab seorang pemimpin bisa saja memiliki istana, kekuasaan, kendaraan kenegaraan dan ribuan orang yang bekerja di bawahnya.

Tetapi pada akhirnya, ia tetap hanya memiliki satu kepala untuk berpikir. Karena itu, saya tetap percaya pada satu kalimat sederhana:

Isi kepala harus lebih ramai daripada isi tas.

Dan ketika pikiran berhadapan dengan pikiran, kita tidak perlu takut. Sebab dari sanalah sebuah bangsa belajar menjadi dewasa.

Pikiran tidak harus dibalas dengan kebencian. Pikiran harus dilawan dengan pikiran. ***

DATA DAN INFORMASI

1. Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024–2029 pada 20 Oktober 2024.

2. Pada 2014, pasangan Prabowo Subianto–Hatta Rajasa didukung Koalisi Merah Putih (KMP), sedangkan pasangan Joko Widodo–Jusuf Kalla didukung Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

3. Koalisi Merah Putih secara resmi mendukung Prabowo-Hatta dan terdiri antara lain dari Gerindra, Golkar, PKS, PAN, PPP dan PBB. Anis Matta ketika itu merupakan Presiden PKS.

4. Dokumentasi akademik yang mengutip pemberitaan Kompas 21 September 2014 mencatat pernyataan Anis Matta yang menggambarkan KMP sebagai konservatif dan kubu Jokowi-JK sebagai liberal.

5. Pada Juli 2026, perpustakaan pribadi Prabowo di Hambalang diberitakan memiliki ribuan buku dengan tema antara lain sejarah perang, filsafat, politik, ekonomi dan kuliner. Perpustakaan dua lantai tersebut juga menjadi tempat Prabowo bekerja, berdiskusi dan menyusun gagasan.

6. Pada 6 April 2025, tvOne juga mendokumentasikan dialog Prabowo dengan sejumlah pemimpin redaksi di ruang perpustakaan kediamannya di Hambalang.

Sumber: ANTARA, tvOne, Rakyat Merdeka, akademik yang merujuk pemberitaan Kompas.