OLAHRAGA

Bukan Cuma Poin, Man City Terancam Krisis Finansial Jika Terdegradasi

×

Bukan Cuma Poin, Man City Terancam Krisis Finansial Jika Terdegradasi

Sebarkan artikel ini
Ancaman Degradasi Mengintai, Manchester City Diprediksi Kehilangan Dana Fantastis
Manchester City menghadapi ancaman kerugian finansial besar jika terdegradasi ke Championship. (instagram/@mancity)

MANCHESTER – Manchester City menghadapi ancaman serius terhadap kondisi finansial klub apabila sanksi atas kasus pelanggaran keuangan berujung pada degradasi dari Premier League ke Championship.

Seorang pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, memperkirakan Manchester City bisa kehilangan lebih dari £500 juta atau sekitar Rp11 triliun setiap musim apabila harus turun dari kasta tertinggi Liga Inggris.

Baca Juga: Drama Penalti di GBK Berakhir Manis, Calvin Verdonk Tegaskan Era Baru Indonesia

Ancaman tersebut muncul di tengah proses penentuan hukuman terkait kasus pelanggaran finansial yang melibatkan Manchester City.

Klub dinyatakan bersalah atas 114 pelanggaran dalam periode sembilan tahun antara 2009 hingga 2018. Premier League juga menemukan adanya pendapatan yang dinilai telah digelembungkan melalui sejumlah kesepakatan yang dipersoalkan.

Meski demikian, Manchester City tetap membantah melakukan pelanggaran dan telah mengajukan banding terhadap keputusan tersebut. Proses hukum tersebut masih dapat berlanjut, termasuk kemungkinan membawa perkara ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi.

Baca Juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Ole Romeny Ungkap Makna Trofi bagi Garuda

Salah satu dampak terbesar jika Manchester City terdegradasi adalah hilangnya pendapatan hak siar. Berdasarkan laporan keuangan terbaru untuk tahun yang berakhir pada 30 Juni 2025, City memperoleh sekitar £278,6 juta dari hak siar.

Jika bermain di Championship, pendapatan tersebut diperkirakan hanya berada di kisaran £50 juta, termasuk pembayaran kompensasi degradasi. Artinya, klub berpotensi kehilangan sekitar £225 juta dari sektor penyiaran dalam satu musim.

Pendapatan pertandingan juga diperkirakan mengalami penurunan. Manchester City mencatat pemasukan sekitar £75,1 juta dari pertandingan pada musim 2024/25. Maguire memperkirakan angka tersebut dapat berkurang antara £30 juta hingga £40 juta apabila klub bermain di Championship.

Baca Juga: Malam Bersejarah Emil Audero, Kiper Rayo Vallecano Antar Indonesia Juara

Menurut Maguire, loyalitas suporter bukan persoalan utama bagi Manchester City. Para pendukung diperkirakan tetap memenuhi stadion meski klub harus bermain di kasta kedua.

Namun, masalah justru berada pada kemampuan klub menjual paket komersial premium.

Produk seperti VIP, pengalaman pertandingan, dan Tunnel Club akan sulit dijual dengan harga yang sama ketika lawan yang dihadapi bukan lagi klub-klub besar Premier League.

Baca Juga: Garuda Ukir Sejarah! Indonesia Taklukkan Thailand Lewat Drama Adu Penalti

Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan besar terhadap pendapatan komersial City. Dalam periode 2009 hingga 2018, pendapatan sponsor klub tercatat sekitar £949,94 juta, tetapi Premier League menilai angka sebenarnya hanya sekitar £119,25 juta. Perbedaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perkara yang sedang dihadapi City.

Sejak 2018, pendapatan komersial Manchester City memang terus meningkat. Klub melaporkan pendapatan komersial sebesar £340,4 juta pada musim 2024/25. Namun, angka tersebut juga berpotensi tertekan jika City tidak lagi bermain di Premier League maupun kompetisi Eropa.

Maguire menilai perusahaan sponsor juga dapat meninjau ulang nilai kerja sama mereka jika City turun kasta. Menurutnya, sulit mengharapkan nilai sponsor tetap berada pada level yang sama ketika klub bermain di Championship dan kehilangan eksposur dari Premier League serta kompetisi Eropa.

Baca Juga: Presiden Federasi Portugal Ungkap Kesalahpahaman Ronaldo dan Jorge Jesus

Masalah lain yang tak kalah besar adalah beban gaji. Berdasarkan perhitungan Maguire, Manchester City memiliki tagihan gaji sekitar £408,4 juta pada musim 2024/25.

Walaupun jumlah tersebut telah berkurang setelah sejumlah pemain dan tokoh penting meninggalkan klub, beban tersebut tetap dinilai terlalu besar untuk dipertahankan di Championship.

Regulasi finansial di Championship membatasi klub hingga 85 persen dari pendapatan yang diperbolehkan untuk digunakan pada biaya yang berkaitan dengan pemain dan manajer.

Baca Juga: 67 Ribu Tiket Ludes, SUGBK Bakal Membara di Final Indonesia vs Thailand

Dengan kondisi pendapatan yang turun drastis, City akan dipaksa melakukan perubahan besar terhadap struktur skuad apabila benar-benar terdegradasi.

Maguire bahkan menyebut situasi tersebut dapat menjadi bencana finansial apabila tidak terjadi eksodus besar-besaran pemain.

Sebagai gambaran, rata-rata tagihan gaji klub Championship berada di sekitar £37 juta. Pada musim 2024/25, hanya tiga klub yang memiliki tagihan gaji di atas £50 juta, yakni Leeds United, Burnley, dan Sunderland. Leeds menjadi yang tertinggi dengan sekitar £102,7 juta.

Baca Juga: Tinggalkan Kamp Portugal, Cristiano Ronaldo Bisa Kena Sanksi Berat

Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya perbedaan antara struktur gaji Manchester City dan klub-klub Championship.

Erling Haaland, misalnya, dilaporkan memiliki penghasilan sekitar £525.000 per pekan atau sekitar £27 juta per tahun. Angka tersebut saja sudah mendekati sebagian besar total tagihan gaji klub Championship.

Selain Haaland, sejumlah pemain dengan penghasilan tinggi seperti Enzo Fernandez sekitar £18 juta per tahun, Phil Foden £16 juta, Jeremy Doku £15 juta, Gianluigi Donnarumma £14 juta, dan Marc Guehi £14 juta juga berpotensi menjadi persoalan apabila City harus bermain di kasta kedua.

Baca Juga: Spanyol Belum Terbendung! Ceko Jadi Korban Ketiga La Roja

Situasi tersebut membuat kemungkinan perubahan besar dalam skuad Manchester City semakin terbuka jika hukuman degradasi benar-benar dijatuhkan. Klub mungkin harus melepas sejumlah pemain dengan nilai tinggi untuk menyesuaikan struktur keuangan dengan kondisi baru.

Namun, proses hukum masih berjalan dan Manchester City terus mempertahankan posisi bahwa mereka tidak bersalah. Karena itu, besarnya dampak finansial tersebut masih bergantung pada keputusan akhir mengenai sanksi yang akan dijatuhkan kepada klub.***