JAKARTA – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) kembali menggelar Football Medical Workshop sebagai upaya meningkatkan kompetensi dokter dan fisioterapis yang bertugas di lingkungan sepak bola nasional.
Memasuki batch kedua, kegiatan ini berlangsung pada 12–14 Oktober 2026 di Avenza Hotel & Convention Cibubur, setelah pelaksanaan batch pertama pada Juni 2026.
Baca Juga: Prof Zainal Tidak Sendirian, Alexander Zeth Rondonuwu Bela Moderasi Beragama
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan, peningkatan kualitas tenaga medis merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem sepak bola Indonesia yang profesional dan berstandar tinggi.
Melalui kegiatan tersebut, PSSI berupaya memperkuat kemampuan dokter dan fisioterapis yang bertugas di klub Super League, Championship, hingga Liga Nusantara.
Kompetensi tenaga medis dinilai berperan penting dalam menjaga kesehatan, kebugaran, serta performa pemain agar dapat tampil optimal di lapangan.
Baca Juga: Irjen Rizal Irawan Tiba di Palu, Gubernur Anwar Hafid Sambut Kapolda Baru
Erick mengatakan, program ini juga menjadi langkah untuk mendorong penerapan standar layanan medis profesional di lingkungan sepak bola Indonesia.
Dengan demikian, tenaga medis diharapkan semakin siap mendukung perkembangan dan prestasi sepak bola nasional.
Selama tiga hari pelaksanaan, workshop membahas berbagai aspek kesehatan olahraga yang relevan dengan kebutuhan sepak bola modern.
Baca Juga: Sulteng Dilanda Kabut Asap, Gubernur Anwar Hafid Serukan Pakai Masker
Materinya mencakup pencegahan dan penanganan cedera, rehabilitasi pemain, pemantauan kondisi fisik, kebutuhan nutrisi, hingga kesehatan mental atlet.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai surveilans cedera, dokumentasi medis, fisiologi sepak bola, serta kebutuhan nutrisi, hidrasi, dan pemulihan pemain.
Perwakilan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Dr. Louie James L. Tan, turut memberikan pemaparan tentang fisiologi dasar sepak bola, peran tim medis, dan kebutuhan pemain dalam menghadapi tuntutan pertandingan.
Baca Juga: Polda Sulteng Periksa Dugaan Pengangkutan Ilegal BBM Subsidi di Banggai
Peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan teknologi VALD untuk mendukung pemantauan pemulihan cedera. Teknologi tersebut menjadi salah satu materi yang relevan dalam membantu tenaga medis mengevaluasi kondisi pemain dan mempertimbangkan kesiapan mereka untuk kembali bertanding.
Memasuki hari kedua, pembahasan diarahkan pada penanganan cedera muskuloskeletal, evaluasi return to play atau kesiapan pemain kembali bermain, kegawatdaruratan kardiovaskular, serta penanganan cedera kepala dan gegar otak (concussion).
Materi lainnya mencakup Pre-Competition Medical Assessment (PCMA), yakni pemeriksaan medis sebelum kompetisi, serta edukasi anti-doping. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan pemain sekaligus mendukung integritas olahraga.
Baca Juga: Wakapolda Sulteng Brigjen Pol Helmi Dimutasi, Penggantinya Semmy Ronny Thabaa
Aspek fisioterapi juga mendapat perhatian melalui pembahasan prinsip rehabilitasi olahraga, terapi manual, pencegahan cedera menggunakan program FIFA 11, serta rehabilitasi cedera pergelangan kaki, ekstremitas bawah, dan ligamen lutut.
Melalui materi tersebut, peserta diharapkan memahami pentingnya proses pemulihan yang terukur dan bertahap.
Pemain tidak hanya dituntut pulih dari cedera, tetapi juga harus memiliki kesiapan fisik yang memadai sebelum kembali menjalani latihan maupun pertandingan.
Baca Juga: Kebakaran di Desa Kalukubula: Ketua NasDem Sigi Ikut Berjibaku, Desak Pemkab Tambah Armada Pemadam
Pada hari ketiga, workshop membahas pendekatan multidisipliner dalam kesehatan olahraga. Materinya meliputi etika tim medis, komunikasi dengan klub dan pemain, perlindungan pemain (safeguarding), kesehatan mental atlet, serta kesehatan perempuan dalam sepak bola.
Pembahasan tersebut menegaskan bahwa dukungan medis bagi pemain tidak terbatas pada penanganan cedera fisik. Pendampingan psikologis, perlindungan keselamatan, dan perhatian terhadap kesejahteraan atlet juga menjadi bagian dari upaya menjaga performa pemain secara berkelanjutan.
Melalui Football Medical Workshop batch kedua ini, PSSI berupaya memperkuat peran tenaga medis sebagai bagian penting dalam pengembangan sepak bola nasional.
Peningkatan kompetensi dan penerapan standar layanan yang profesional diharapkan dapat membantu klub menjaga kondisi pemain sekaligus mendukung peningkatan kualitas kompetisi sepak bola Indonesia.***













