SWISS – Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan setelah rencana komersialisasi aset sepak bola dunia menuai kritik dari sejumlah konfederasi.
Dalam rapat Dewan FIFA di Zurich, Swiss, Kamis, Infantino dilaporkan menyampaikan permintaan maaf karena tidak lebih awal menginformasikan rencananya kepada anggota dewan.
Baca Juga: Festival Danau Poso 2026 Dibuka, Anwar Hafid Dorong UMKM dan Pariwisata
Namun, permintaan maaf tersebut belum meredakan ketegangan dengan sejumlah pemimpin sepak bola Eropa. Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, termasuk pihak yang disebut masih menginginkan Infantino mengundurkan diri dari jabatannya.
UEFA juga mendesak FIFA membuka seluruh dokumen terkait rencana penjualan kepentingan komersial dalam turnamen-turnamen mendatang.
Kekhawatiran muncul karena sekitar 20 persen kepentingan tersebut disebut berpotensi dijual dengan harga yang dinilai terlalu rendah.
Baca Juga: Rayakan Ultah, Wijaya Chandra Luncurkan Buku dan Media Online CindoNews.com
Persoalan ini menambah tekanan terhadap kepemimpinan Infantino, terutama setelah rencana menjual sebagian keuntungan Piala Dunia mendatang kepada investor ekuitas swasta dibatalkan menyusul penolakan dari sejumlah badan sepak bola.
Sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis, FIFA sebelumnya mengumumkan rencana membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE).
Entitas tersebut dirancang untuk menyatukan pengelolaan hak komersial FIFA, mulai dari penyiaran, sponsor, tiket, hingga lisensi, dengan pelaksanaan operasional turnamen.
Baca Juga: Gelar Serah Terima Pataka, Kepemimpinan Polda Sulteng Beralih ke Irjen Rizal Irawan
Infantino juga memberikan tenggat hingga 19 September kepada asosiasi sepak bola untuk mendukung proposal penjualan sebagian kepentingan FIFA kepada investor swasta.
Proposal itu disertai insentif sebesar 30,1 juta pound sterling bagi asosiasi yang menyetujuinya, menurut informasi dalam laporan tersebut.
Akan tetapi, rencana tersebut mendapat penolakan dari sejumlah konfederasi, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Kritik yang muncul mendorong FIFA mengevaluasi kembali pendekatan bisnis yang diusulkan.
Baca Juga: RDP di DPRD Pohuwato Bahas Isu PHK, Ini Penjelasan Manajemen PT GN
Di tengah polemik tersebut, FIFA juga tengah meninjau Hadiah Perdamaian yang diberikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Desember 2025. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Infantino di Washington menjelang pengundian Piala Dunia.
Komite Tanggung Jawab Sosial Sepak Bola FIFA kini mengevaluasi penghargaan tersebut, termasuk alasan pemberian dan mekanisme penetapannya.
Keputusan mengenai kemungkinan penghapusan Hadiah Perdamaian dijadwalkan dibahas dalam pertemuan Dewan FIFA pada Desember 2026.
Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Sepak Bola Indonesia, PSSI Perkuat Kompetensi Tenaga Medis
Hadiah Perdamaian FIFA baru diperkenalkan pada 2025. Trump menjadi penerima pertama sekaligus satu-satunya penerima penghargaan tersebut hingga saat ini. Padahal, ketika diperkenalkan, FIFA menyatakan penghargaan itu direncanakan untuk diberikan setiap tahun.
Pemberian penghargaan kepada Trump sebelumnya memunculkan kritik dan pertanyaan mengenai dasar pemilihannya.
Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut sebagai upaya Infantino membangun kedekatan dengan Presiden AS, meskipun penilaian mengenai motif tersebut tetap merupakan interpretasi atas keputusan FIFA.
Baca Juga: Prof Zainal Tidak Sendirian, Alexander Zeth Rondonuwu Bela Moderasi Beragama
Selain persoalan komersialisasi dan Hadiah Perdamaian, rapat Dewan FIFA juga menyoroti keputusan terkait sanksi terhadap penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun.
FIFA memutuskan bahwa Komite Hukum akan meninjau prosedur disiplin yang berkaitan dengan penangguhan larangan satu pertandingan terhadap pemain tersebut selama Piala Dunia.
Hasil peninjauan prosedur disiplin itu akan disampaikan dalam pertemuan dewan berikutnya pada Desember 2026, bersamaan dengan hasil evaluasi Hadiah Perdamaian FIFA.
Baca Juga: Irjen Rizal Irawan Tiba di Palu, Gubernur Anwar Hafid Sambut Kapolda Baru
Dalam pertemuan yang sama, FIFA turut membahas rencana meningkatkan pendanaan untuk asosiasi anggota melalui Program Solidaritas Surplus FIFA.
Organisasi tersebut mengusulkan kenaikan lebih dari dua kali lipat dari tingkat pendanaan yang sebelumnya direncanakan untuk periode 2027–2030, menjadi 6,35 miliar dolar AS atau sekitar 4,79 miliar pound sterling.
Rencana itu mencakup alokasi sekitar 25 juta dolar AS untuk setiap asosiasi anggota. Meski demikian, proposal pendanaan tersebut masih akan dikaji lebih lanjut dan dijadwalkan kembali dibahas pada Desember mendatang.
Baca Juga: Sulteng Dilanda Kabut Asap, Gubernur Anwar Hafid Serukan Pakai Masker
Berbagai persoalan tersebut menempatkan FIFA di bawah sorotan, mulai dari transparansi pengelolaan hak komersial, mekanisme pengambilan keputusan, hingga pemberian penghargaan kepada tokoh politik dunia.
Pertemuan Dewan FIFA pada Desember 2026 akan menjadi momentum penting untuk mengetahui hasil evaluasi terhadap Hadiah Perdamaian, prosedur disiplin, serta rencana pendanaan dan pengelolaan bisnis organisasi sepak bola dunia itu.***













