JAKARTA — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap pekat di berbagai wilayah Indonesia, memicu dampak buruk bagi kesehatan masyarakat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat, terjadi peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menjadi basis utama Karhutla.
Baca Juga: Minggu Kasih di GKI Palu, Wakapolda Sulteng Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas
Sesuai data Kemenkes, setidaknya 283.270 kasus ISPA di wilayah terdampak Karhutla yang tersebar di 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota. Data ini merupakan akumulasi pada Agustus hingga pertengahan Oktober 2026.
Secara nasional, akumulasi dampak ISPA secara keseluruhan bahkan menembus jutaan kasus.
Daerah terparah yaitu Kalimantan Selatan. Provinsi ini menjadi provinsi dengan kasus ISPA tertinggi yang mencapai 74.636 kasus.
Baca Juga: Tambahan Daya 50 MW di PLTD Sidera, Sulteng Percepat Pemerataan Listrik Desa
Kemudian Sumatra Selatan di posisi kedua dengan jumlah 74.458 kasus. Kemudian Kalimantan Tengah, Provinsi Riau, Kalimantan Timur, juga terjadi lonjakan tajam puluhan ribu kasus.
Balita dan kelompok rentan jadi korban utama. Dari total kasus yang dilaporkan di wilayah Karhutla, sebanyak 63.711 kasus dialami oleh anak-anak/balita berusia 0–5 tahun.
Kemenkes mengimbau penanganan prioritas bagi kelompok rentan, yang meliputi balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan kronis (asma/PPOK).
Baca Juga: PABERSI Sulteng Ketua Baru, Farid Podungge Siapkan Langkah Menuju PON 2028
Pihak Kemenkes juga menjelaskan, paparan asap Karhutla sangat berbahaya karena mengandung partikel halus berukuran kecil (PM2.5) yang dapat masuk dalam paru-paru.
Asap Karhutla juga mengandung gas beracun seperti Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen Dioksida (NO₂)
Senyawa organik beracun dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke) jika terpapar jangka panjang.
Baca Juga: Real Madrid Layangkan Tuntutan Keras, Javier Tebas Diminta Lepas Dua Jabatan
Untuk itu, Kemenkes telah memobilisasi ratusan tenaga kesehatan (dokter, perawat, epidemiolog) serta mendistribusikan ratusan ribu masker gratis, tabung Oxycan, Oxygen Concentrator, obat-obatan, dan vitamin ke daerah-daerah krisis.
Untuk menghindari risiko itu, warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kemudian menggunakan masker respirator/N95 atau masker medis jika harus keluar rumah.
Warga juga diimbau meningkatkan konsumsi air putih dan segera mendatangi puskesmas/faskes terdekat bila alami sesak napas. (*)













