EKONOMI

BPDP, Ditjenbun dan IPB Training, Latih 70 Petani Sawit Morut Bikin Pupuk Organik

×

BPDP, Ditjenbun dan IPB Training, Latih 70 Petani Sawit Morut Bikin Pupuk Organik

Sebarkan artikel ini
BPDP, Ditjenbun dan IPB Training Latih 70 Petani Sawit Morut Bikin Pupuk Organik
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Daerah Kabupaten Morowali Utara, Krispen Hebret Masu, memakaikan topi pelatihan secara simbolis kepada peserta pelatihan asal Morowali Utara, saat pembukaan pelatihan pembuatan pupuk organik, Kamis (15/10/2026) di Hotel Aston Palu.

PALU – Kurang lebih 70 petani kelapa sawit dari Kabupaten Morawali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengikuti pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik di Kota Palu.

Pelatihan tersebut berlangsung di Hotel Aston Palu, pada 15–18 Oktober 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit. Pelatihan terlaksana berkat kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, dan IPB Training.

Baca Juga: 68 Petani Sawit Morowali Dilatih BPBD dan BBPP Batangkaluku Bikin Pupuk Organik

Pelatihan dibagi dalam dua angkatan untuk Provinsi Sulteng Tahun 2026.

Pembukaannya berlangsung Kamis (15/10/2026), oleh Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng, Dandy Alfita, S.Pt., M.Si mewakili kepala dinas, Muhammad Neng ST., MM., IPU.

Perwakilan IPB Training selaku penyelenggara, Dr. Ir. Budi Nugroho, menyambut positif pelatihan Itu. Ia mengaku memiliki kedekatan dengan Morowali Utara, karena telah mengenal wilayah itu sejak masih menjadi bagian dari Kabupaten Poso pada 1990-an.

“Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan kegiatan seremonial. Program ini memberi manfaat nyata bagi petani, terutama dalam meningkatkan keterampilan dan menjawab persoalan di lapangan,” kata dia mewakili pihak penyelenggara.

Baca Juga: Indonesia Impor Nikel dari Filipina, Smelter Morowali-Morut Dapat 3,94 Juta Metrik Ton

Salah satu persoalan dalam budidaya kelapa sawit saat ini adalah ketersediaan pupuk. Karena itu, pupuk organik perlu dikembangkan sebagai alternatif untuk menjawab kebutuhan perkebunan.

Selama pelatihan, para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mempelajari teknik pembuatan, pengaplikasian, hingga penggunaan pupuk yang tepat sesuai kondisi tanah di lapangan.

“Bukan hanya teori dan teknis membuat pupuk yang diajarkan. Bagaimana pengadaan pupuk efektif di lapangan juga dibekali kepada peserta,” ujar Budi.

Ia berharap pelatihan itu mampu mendorong petani memproduksi pupuk organik berbasis potensi lokal. Dengan begitu, penggunaannya dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk non-organik di perkebunan kelapa sawit di daerah.

Baca Juga: Pabrik PT SPN di Morowali Utara Terbakar Siang Hari

“Kalau dari pelatihan ini ada yang menjadi pengusaha pupuk organik dan kemudian diedarkan secara nasional atau lokal, itu sebuah keberhasilan. Apalagi pupuknya tidak hanya untuk kelapa sawit, tapi juga untuk tanaman lainnya,” katanya.

Ia turut mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, yang telah mengirimkan petani sawitnya untuk mengikuti pelatihan. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Daerah Morowali Utara, Krispen Hebret Masu, hadir langsung mewakili pemerintah kabupaten saat pembukaan.

PELOPOR PUPUK ORGANIK

Dukungan terhadap peningkatan kompetensi petani sawit Morowali Utara  juga disampaikan Dr. Apuk Ismane, selaku Ketua Tim Bidang Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan.

BPDP, Ditjenbun dan IPB Training Latih 70 Petani Sawit Morut Bikin Pupuk Organik
Foto bersama peserta pelatihan dengan undangan yang hadir.

Ia hadir secara daring mewakili Kepala BPPSDMP saat pembukaan pelatihan hari itu.

Baca Juga: Kericuhan di Morowali: 53 TKA China Diperiksa, Polisi Dalami Keterlibatan Mereka

Apuk berharap, peserta pelatihan memahami seluruh tahapan pembuatan pupuk organik. Mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengendalian proses, hingga penilaian kematangan dan kualitas pupuk.

Setelah pelatihan, peserta diharapkan mampu menerapkan ilmunya di daerah masing-masing.  Bahkan mereka diminta bisa menjadi pelopor penggunaan teknologi pupuk organik.

“Bapak dan Ibu petani ini sebagai pelopor penerapan teknologi pupuk organik di wilayah masing-masing dan sekitarnya,” ujarnya.

Ia juga mendorong peserta memanfaatkan limbah pertanian dan bahan organik yang ada di lingkungan sekitar. Pengolahan yang tepat dapat menghasilkan pupuk organik  berkualitas sekaligus bernilai ekonomis.

Baca Juga: Ekonomi Kreatif Morowali Utara Siap-siap Go Nasional

Selain itu, petani diminta memperkuat kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), serta kelembagaan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) di Morowali Utara.

PERKEBUNAN BERKELANJUTAN

Sementara itu, Dandy Alfita saat membacakan sambutan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng, menyebut pupuk organik sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung perkebunan berkelanjutan.

Menurutnya, pupuk organik dapat dibuat dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar petani. Pemanfaatannya juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Baca Juga: Anwar Hafid Dorong Milenial dan Gen Z Jadi Petani, Teknologi Jadi Andalan

Dandy menjelaskan, program pengembangan sumber daya manusia perkebunan di Sulteng pada 2026 mencakup komoditas kelapa sawit dan kakao.

Program awal menargetkan 270 peserta pelatihan sawit dari Morowali Utara dan Banggai. Sementara itu, pelatihan kakao di Kabupaten Poso ditargetkan diikuti 150 peserta.

Dalam usulan berikutnya, jumlah peserta meningkat menjadi 429 orang. Rinciannya, 316 peserta untuk komoditas sawit di Morowali Utara dan Banggai serta 113 peserta untuk kakao di Poso.

Usulan tersebut akan diproses lebih lanjut untuk pelaksanaan program pada 2027.

Dandy berharap pelatihan tersebut meningkatkan keterampilan petani, mulai dari memilih bahan baku hingga membuat dan mengaplikasikan pupuk organik.

Baca Juga: WIA Morut Semakin Aktif Berkegiatan, Apresiasi Bantuan Pribadi Warda Dg Mamala

Selain materi dari IPB Training, peserta juga menerima materi dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng mengenai pemanfaatan agen pengendali hayati.

Pada hari terakhir, peserta dijadwalkan mengikuti kunjungan lapangan. Tujuannya  memberi gambaran langsung tentang proses pembuatan pupuk organik dan penerapannya di lapangan. (*)