PALU – Penguatan ekonomi pesantren melalui pengembangan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam pertemuan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Tengah, Gufran Ahmad, dengan Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Sulawesi Tengah, Sahran Raden.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor KADIN Provinsi Sulawesi Tengah di Jalan Yos Sudarso, Palu, Selasa (22/9/2026), membahas potensi pesantren sebagai salah satu basis pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah.
Baca Juga: Wagub Reny Buka Peluang bagi Pelaku Usaha Sulteng Lewat Pengadaan Digital
Pertemuan tersebut sepakat mendorong penguatan kewirausahaan santri serta pengembangan produk UMKM yang lahir dari lingkungan pesantren.
Ketua PW ISNU Sulteng, Sahran Raden mengatakan, pesantren memiliki modal sosial yang kuat untuk mengambil bagian dalam pengembangan ekonomi daerah. Selain memiliki santri dan alumni dalam jumlah besar, pesantren juga memiliki jaringan masyarakat yang dapat menjadi basis produksi, distribusi hingga pasar.
“Pesantren kita dorong tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tapi juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Santri harus memiliki kemampuan menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan kerja dan membangun kemandirian,” ujar Sahran.
Baca Juga: Peringati Harpelnas 2026, Dirut BSI Turun Langsung Layani Nasabah
Salah satu tantangan utama adalah mendorong produk pesantren agar mampu menembus pasar yang lebih luas. Pengembangan UMKM, kata dia, tidak cukup hanya melalui bantuan permodalan.
Kata Sahran, diperlukan ekosistem yang mencakup pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, pemenuhan legalitas dan sertifikasi. Kemudian pengemasan, branding, pemasaran digital, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.
“Produk pesantren harus memiliki standar yang mampu bersaing. Kita ingin produk yang lahir dari pesantren tidak hanya dikonsumsi oleh komunitas pesantren, tetapi bisa masuk ke pasar lokal, nasional, bahkan hingga ke pasar global,” obsesi Sahran.
Baca Juga: Melangsungkan Pernikahan dengan View Outdoor Romantis, Pilihannya Swiss-Bellin Luwuk
Ketua KADIN Sulawesi Tengah, Gufran Ahmad, menyambut positif gagasan penguatan ekonomi terhadap pesantren.
Gufran setuju dengan dunia usaha memiliki kepentingan dan butuh membangun jejaring dengan pesantren. Karena lembaga tersebut memiliki potensi sumber daya manusia sekaligus basis komunitas yang besar.
“KADIN dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan potensi usaha pesantren dengan dunia usaha. Yang kita bangun bukan sekadar kegiatan jual beli, tetapi ekosistem. Supaya produk pesantren dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Gufran.
Ia menyebut sejumlah pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan UMKM pesantren. Mulai dari peningkatan kapasitas kewirausahaan, penguatan manajemen usaha, pengembangan kemitraan, akses pasar, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Dalam pertemuan tersebut, posisi santri dalam pembangunan ekonomi juga menjadi perhatian. Santri tidak hanya dipandang sebagai konsumen, tetapi diharapkan dapat berkembang menjadi pelaku ekonomi.
Santri masa depan, dinilai perlu memiliki kompetensi yang lebih luas. Tidak hanya dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga kewirausahaan, literasi digital serta kemampuan mengelola usaha.
Baca Juga: Ekonomi Kreatif Morowali Utara Siap-siap Go Nasional
Atas dasar itu, PW ISNU Sulteng mendorong lahirnya santri entrepreneur sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan pesantren.
SANTRI FUTURE FESTIVAL 2026
Gagasan itu akan dikembangkan melalui Santri Future Festival 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 di Palu, Sulawesi Tengah.
Festival tersebut akan menggelar sejumlah agenda. Di antaranya Santri Think berupa dialog pemberdayaan pesantren, Santri Digital yang membahas literasi, inovasi dan teknologi, serta Santri Entrepreneur yang berfokus pada pengembangan kewirausahaan santri.
Baca Juga: Dukung Swasembada Bawang Putih, Kapolda Sulteng Tanam Serentak dan Salurkan Bantuan Alsintan di Sigi
Selain itu, terdapat Ekspo Produk UMKM Pesantren, Debat Kitab Kuning, serta Debat Fiqh atau Bahtsul Masail.
Khusus Ekspo Produk UMKM Pesantren, PW ISNU Sulteng akan menjadikannya sebagai ruang untuk memperkenalkan produk-produk pesantren sekaligus mempertemukannya dengan masyarakat, dunia usaha dan berbagai jejaring potensial.
Sahran menegaskan, Santri Future Festival tidak diarahkan sekadar menjadi kegiatan seremonial. Festival tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem kewirausahaan pesantren secara berkelanjutan.
Baca Juga: Kapolda Sulteng Resmikan Jembatan Presisi Jenderal Hoegeng, Akses Kini Makin Cepat
“Festival ini adalah momentum untuk memetakan potensi ekonomi pesantren. Setelah itu harus ada tindak lanjut berupa pendampingan, inkubasi usaha, akses pasar dan kemitraan. Jadi kita tidak berhenti pada expo, tetapi membangun ekosistem,” jelas Sahran.
PW ISNU Sulteng juga membuka peluang kolaborasi dengan KADIN, pemerintah daerah, perbankan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas ekonomi kreatif dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melahirkan model pengembangan ekonomi pesantren yang sesuai dengan karakteristik dan potensi Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Cegah Inflasi, Wagub Reny dan Bupati Tolitoli Cek Harga Bahan Pokok, Ini Hasilnya
Gufran Ahmad dan Sahran Raden, memiliki perhatian yang sama bahwa pengembangan ekonomi pesantren perlu diarahkan pada keberlanjutan.
Pesantren diharapkan mampu mengembangkan unit-unit usaha produktif yang dikelola secara profesional, sekaligus melibatkan santri dalam proses pembelajaran dan praktik kewirausahaan.
Baca Juga: Anwar Hafid Perkuat Kerja Sama dengan UEA, Task Force Investasi Segera Dibentuk
“Santri masa depan harus mampu membaca kitab sekaligus membaca perubahan zaman. Menguasai ilmu agama, teknologi dan kewirausahaan. Dari pesantren kita ingin lahir generasi yang berilmu, berdaya dan berkarya,” kata Sahran.
Pertemuan KADIN Sulteng dan PW ISNU Sulteng, menjadi bagian dari upaya membangun konektivitas antara pesantren, santri, dunia usaha dan perekonomian daerah. (*)













