OPINI

Satu Nama yang Jadi Alasan Menjadi Gooners

×

Satu Nama yang Jadi Alasan Menjadi Gooners

Sebarkan artikel ini
Satu Nama yang Jadi Alasan Menjadi Gooners
Pelatih Klub Como, Cesc Fabregas. Ia juga mantan pemain Arsenal dan Barcelona. (Foto: IST).

Penulis : Ari Loru

ADA banyak alasan mengapa seseorang jatuh cinta kepada Arsenal.

Ada yang datang karena Thierry Henry dengan gol-golnya yang membuat Highbury seperti kehilangan akal sehat. Ada yang terpikat oleh elegannya Dennis Bergkamp. Ada yang mengenal Arsenal melalui Patrick Vieira, sang kapten dengan karakter keras dan kepemimpinan yang tidak banyak bicara.

Tetapi bagi saya, ada satu nama yang membuat Arsenal terasa lebih dari sekadar sebuah klub sepak bola.

Cesc Fàbregas.

Baca Juga: Merdeka Di Atas Luka Bangsa

Seorang anak muda dari Catalonia yang datang ke London, lalu perlahan tumbuh menjadi jantung permainan Arsenal. Ia bukan pemain yang paling besar tubuhnya. Bukan pula yang paling cepat. Tetapi ketika bola berada di kakinya, seolah-olah lapangan memiliki bahasa yang hanya ia mengerti.

Dan di punggungnya ada angka 4.

Angka yang sebelumnya begitu identik dengan Patrick Vieira. Kemudian berpindah kepada seorang anak muda yang datang membawa mimpi dari Barcelona.

Anak itu bukan sekadar meneruskan nomor.

Ia meneruskan sebuah tanggung jawab.

Fàbregas kemudian menjadi kapten.

Bayangkan perjalanan itu.

Baca Juga: Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan

Seorang anak yang datang sebagai pemain muda, bermain bersama para senior, lalu suatu hari dipercaya mengenakan ban kapten Arsenal. Ia tumbuh bukan hanya menjadi pengatur permainan, tetapi menjadi salah satu wajah generasi Arsenal yang membuat banyak orang tetap bertahan mencintai klub itu, bahkan ketika trofi terasa seperti sesuatu yang begitu jauh.

Bagi saya, menjadi Gooners bukan hanya tentang berapa banyak trofi yang kita rayakan.

Kadang, menjadi Gooners adalah tentang nama-nama yang membuat kita bertahan ketika keadaan tidak baik-baik saja.

Dan Cesc adalah salah satunya.

Namun sepak bola punya cara sendiri untuk memisahkan manusia dari tempat yang dicintainya.

Cesc pergi.

Arsenal melanjutkan perjalanan.

Baca Juga: KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT

Sang pemilik nomor 4 itu kemudian membawa kariernya ke Barcelona, Chelsea, Monaco, hingga akhirnya menemukan sebuah babak baru di Italia: Como.

Menariknya, Como bukanlah klub yang lahir dari kemewahan kesuksesan.

Klub ini pernah mengalami kebangkrutan dan harus memulai kembali dari Serie D. Pada 2019, Como diakuisisi oleh SENT Entertainment, bagian dari proyek yang melibatkan Djarum Group. Dari titik itu, Como perlahan dibangun kembali hingga mampu menapaki jalan panjang menuju Serie A.

Sebuah perjalanan dari bawah.

Pelan-pelan.

Setahap demi setahap.

Dan mungkin justru di situlah Cesc menemukan sesuatu yang berbeda.

Ia tidak datang ke Como sekadar untuk menutup buku kariernya sebagai pemain.

Ia ikut menjadi bagian dari sebuah proyek.

Baca Juga: MOHAMMAD IRWAN IS BACK

Ketika sepatu akhirnya digantung, ia tidak benar-benar meninggalkan lapangan. Ia hanya berpindah tempat.

Dari tengah lapangan ke pinggir lapangan.

Dari pengatur permainan menjadi pengatur manusia.

Dari seorang pemain yang memberikan umpan, menjadi seorang pelatih yang memberikan arah.

Permainan berubah. Perannya berubah. Tetapi kecintaannya terhadap sepak bola tetap sama.

Di Como, Fàbregas mendapatkan kesempatan untuk menulis babak kedua.

Dan babak kedua dalam kehidupan sering kali justru menjadi bagian yang paling menarik.

Sebab pada babak pertama, kita sibuk membuktikan siapa diri kita.

Pada babak kedua, kita mulai memahami untuk apa semua pengalaman itu.

Dulu Cesc membaca ruang di antara para pemain lawan.

Sekarang ia membaca karakter para pemainnya.

Dulu ia mencari celah untuk mengirimkan umpan.

Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Sekarang ia mencari cara agar pemain lain menemukan kemampuan terbaiknya.

Di situlah seorang pemain besar perlahan belajar menjadi seorang pemimpin.

Sebab kepemimpinan bukan lagi tentang seberapa sering nama kita disebut.

Kepemimpinan adalah tentang seberapa banyak orang lain tumbuh karena kehadiran kita.

Dan Como sendiri seperti sedang menjalani pelajaran yang sama.

Sebuah klub yang pernah jatuh hingga Serie D, kemudian dibangun kembali dengan visi yang panjang. Tidak tergesa-gesa. Tidak hanya mengejar sorotan. Tetapi membangun fondasi agar suatu hari mampu berdiri di panggung yang lebih besar.

Bukankah hidup juga begitu?

Baca Juga: Senyum Chiki Fawzi Penalar Luka Tamiang

Kita sering melihat orang lain sudah sampai di puncak, sementara kita masih sibuk merapikan hidup yang berantakan.

Kita melihat hasil akhirnya, tetapi lupa bahwa setiap pencapaian memiliki ruang sunyi yang panjang di belakangnya.

Ada kegagalan.

Ada penantian.

Ada keputusan untuk memulai kembali.

Dan ada keberanian untuk percaya bahwa sesuatu yang pernah jatuh masih mungkin dibangun kembali.

Mungkin karena itu kisah Cesc dan Como terasa begitu dekat.

Seorang pemain yang pernah berada di panggung terbesar sepak bola dunia, kemudian memilih memulai perjalanan baru.

Sebuah klub yang pernah jatuh begitu jauh, kemudian memilih bangkit.

Baca Juga: Arus Perhatian: Posisi Politik Baru

Keduanya bertemu dalam satu cerita.

Tentang kesempatan kedua.

Dan bagi seorang Gooners, tentu ada sedikit rasa haru melihat perjalanan itu.

Karena kita pernah mengenal Cesc sebagai anak muda dengan nomor 4 di punggungnya.

Kita pernah melihatnya mengenakan ban kapten.

Kita pernah menyaksikan umpan-umpannya membelah pertahanan lawan.

Kita pernah berharap ia membawa Arsenal kembali kepada kejayaan.

Lalu waktu berjalan.

Pemain berubah.

Klub berubah.

Kita pun berubah.

Tetapi beberapa nama tetap tinggal di dalam ingatan.

Cesc Fàbregas adalah salah satunya.

Bukan hanya karena gol atau assist.

Bukan hanya karena ban kapten.

Bukan hanya karena nomor 4.

Baca Juga: Mbappe Cetak Brace, Real Madrid Bangkit dan Hancurkan Rayo Vallecano

Tetapi karena ia pernah menjadi bagian dari masa yang membuat kita jatuh cinta kepada Arsenal.

Dan hari ini, ketika melihatnya berdiri di pinggir lapangan Como, saya justru tidak melihat seorang pemain yang kehilangan panggung.

Saya melihat seseorang yang sedang menemukan panggung yang baru.

Dari London ke Como.

Dari nomor 4 ke papan taktik.

Dari seorang kapten menjadi seorang guru.

Mungkin begitulah kehidupan bekerja.

Tidak semua perjalanan harus berakhir di tempat kita memulainya.

Tidak semua kehilangan berarti akhir.

Dan tidak semua perpisahan berarti kita berhenti mencintai.

Kadang kita hanya perlu membawa nilai-nilai dari rumah lama, lalu menggunakannya untuk membangun rumah yang baru.

Cesc pernah menjadi anak muda Arsenal.

Ia pernah menjadi kapten kami.

Kini ia sedang membangun sesuatu di Como.

Baca Juga: Mikel Arteta Beri Kabar Terbaru 3 Bintang Arsenal Jelang Hadapi Sunderland

Dan bagi saya, cerita itu cukup untuk mengingatkan satu hal:

Kita boleh berganti lapangan, berganti peran, bahkan berganti arah. Tetapi selama kita masih memiliki mimpi, pertandingan belum selesai.

Peluit belum panjang.

Bola masih bergulir.

Dan sang pemilik nomor 4 itu masih menulis ceritanya.

Cesc Fàbregas.

Dari Arsenal.

Untuk Como.

Dari seorang pemain.

Menjadi seorang pemimpin.

Dan mungkin, pada akhirnya, menjadi seseorang yang mengajarkan kita bahwa babak kedua kehidupan tidak selalu lebih buruk daripada babak pertama. Kadang, justru di sanalah cerita terbaik dimulai.

Enjoy the moments, Gooners. (*)