KESEHATAN — Makanan cepat saji atau fast food menjadi pilihan praktis ketika seseorang tidak memiliki banyak waktu untuk memasak. Rasanya yang menarik, mudah diperoleh dan penyajiannya cepat membuat makanan jenis ini digemari banyak orang.
Namun, bagaimana jika makanan cepat saji hanya dikonsumsi sekali dalam seminggu?
Baca Juga: 8 Tanaman Hias yang Bisa Membantu Meningkatkan Kesehatan Mental
Secara umum, pola makan sehat tetap dianjurkan mengutamakan makanan utuh seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, protein tanpa lemak, ikan serta sumber lemak sehat.
Masalahnya bukan hanya terletak pada jenis makanan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut diproses dan disiapkan. Banyak produk fast food memiliki kandungan natrium, gula tambahan, lemak jenuh dan bahan tambahan yang cukup tinggi.
Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Baca Juga: Cuaca Makin Panas? Hindari 4 Jenis Minuman Ini Bisa Memperparah Dehidrasi
Meski makan fast food hanya sekali seminggu tentu berbeda risikonya dibandingkan mengonsumsinya setiap hari, kebiasaan tersebut tetap dapat memberikan dampak tertentu pada tubuh.
Berikut beberapa hal yang mungkin terjadi.
1. Pencernaan Dapat Mengalami Gangguan
Salah satu efek yang relatif cepat dirasakan setelah mengonsumsi makanan cepat saji adalah gangguan pencernaan.
Ahli diet terdaftar Trista Best menjelaskan bahwa makanan cepat saji umumnya rendah serat. Padahal, serat berperan penting dalam membantu pergerakan usus, menjaga keteraturan buang air besar dan mendukung bakteri baik di saluran pencernaan.
Baca Juga: Tak Perlu Gym Setiap Hari, 5 Manfaat Jalan Kaki Rutin yang Bisa Dirasakan dalam Sebulan
Ketika asupan serat rendah, seseorang dapat mengalami sembelit atau rasa tidak nyaman pada sistem pencernaan.
Makanan cepat saji yang tinggi lemak, karbohidrat olahan dan bahan tambahan tertentu juga dapat membuat sebagian orang mengalami kembung atau lebih banyak gas setelah makan.
Respons tubuh tentu berbeda-beda. Orang yang jarang mengonsumsi makanan jenis ini mungkin merasa efeknya lebih jelas dibandingkan mereka yang sudah terbiasa.
Baca Juga: Tetap Fit Saat Suhu Terik, Ini 8 Tips Aman Berolahraga di Tengah Cuaca Panas
2. Gula Darah Dapat Melonjak Setelah Makan
Makanan cepat saji sering mengandung karbohidrat olahan, gula tambahan dan minuman manis. Kombinasi tersebut dapat membuat kadar gula darah meningkat dengan cepat setelah makan.
Ahli diet Meaghan Greenwood menjelaskan bahwa satu porsi makanan cepat saji dapat menyebabkan lonjakan gula darah dalam waktu relatif singkat. Kondisi tersebut membuat pankreas bekerja untuk menghasilkan insulin guna membantu mengatur kadar gula darah.
Jika pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan terus terjadi dalam jangka panjang, lonjakan gula darah yang berulang dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Baca Juga: Anwar Hafid: Tiga Tahun ke Depan, Sulteng Bebas TB
Bagi orang yang sudah mengalami pradiabetes atau diabetes, perhatian terhadap pilihan makanan menjadi semakin penting karena respons gula darah dapat lebih signifikan.
3. Tekanan Darah dan Risiko Penyakit Jantung Perlu Diperhatikan
Kandungan natrium yang tinggi menjadi salah satu alasan makanan cepat saji perlu dikonsumsi secara terbatas.
Asupan natrium yang berlebihan secara konsisten dapat meningkatkan tekanan darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan pada sistem kardiovaskular dan meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung serta stroke.
Baca Juga: Cuaca Panas, Jangan Tambah Pemicu! 6 Makanan Ini Bisa Membuat Berkeringat
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation pada 2012 juga menemukan adanya hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dan peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner.
Namun, penting untuk memahami bahwa risiko kesehatan tidak ditentukan oleh satu kali makan saja. Pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, kebiasaan merokok, kondisi kesehatan dan faktor lainnya juga memiliki peran besar.
4. Kesehatan Hati juga Bisa Terdampak
Dampak lain yang perlu diperhatikan adalah kesehatan hati, terutama jika konsumsi makanan cepat saji menjadi bagian rutin dari pola makan yang kurang sehat.
Baca Juga: 5 Alasan Menambahkan Aloe Vera ke Rutinitas Perawatan Kulit Setelah Usia 50 Tahun
Penelitian Keck Medicine of USC yang dipublikasikan pada 2023 menemukan hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dalam jumlah tinggi dengan risiko penyakit hati berlemak nonalkohol.
Dalam penelitian tersebut, orang yang memperoleh setidaknya 20 persen kalori hariannya dari makanan cepat saji memiliki risiko lebih tinggi mengalami penumpukan lemak pada hati.
Makanan cepat saji dalam penelitian itu didefinisikan secara luas, termasuk makanan yang diperoleh dari restoran tanpa layanan meja seperti restoran drive-thru. Dengan demikian, makanan seperti pizza dan sandwich tertentu juga dapat masuk dalam kategori tersebut.
Baca Juga: Cegah Gangguan Psikologis, Biro SDM Polda Sulteng Gelar Konseling Personel Polres Parimo
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa konsumsi makanan cepat saji tidak hanya berkaitan dengan berat badan atau kesehatan jantung, tetapi juga dapat berhubungan dengan kesehatan organ hati.
Lalu, Apakah Makan Fast Food Sekali Seminggu Aman?
Mengonsumsi makanan cepat saji sekali seminggu tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami penyakit tertentu. Risiko kesehatan lebih banyak dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Jika sebagian besar makanan sehari-hari terdiri dari makanan bergizi, kaya serat, protein berkualitas, buah dan sayuran, serta seseorang tetap aktif secara fisik, satu kali makan fast food sesekali kemungkinan memiliki dampak yang berbeda dibandingkan konsumsi berulang dalam jumlah besar.
Baca Juga: Polri Gelar Operasi Celah Bibir dan Lelangit Gratis di Palu, Screening Dibuka 17–18 Agustus
Yang perlu diperhatikan adalah ukuran porsi, pilihan menu, minuman pendamping dan frekuensi konsumsi.
Memilih menu dengan lebih sedikit garam, gula tambahan dan lemak jenuh, serta menambahkan sayuran atau sumber serat dapat menjadi langkah sederhana untuk membuat pilihan makan lebih seimbang.***













