OPINI

Hari Tani Nasional 2026 di Tengah El-Nino, Titip Harapan kepada Sang Khalik

×

Hari Tani Nasional 2026 di Tengah El-Nino, Titip Harapan kepada Sang Khalik

Sebarkan artikel ini
Hari Tani Nasional 2026 di Tengah El-Nino, Titip Harapan kepada Sang Khalik
Petani sedang menjemur gabah hasil panen mereka. (Foto: Muhammad Taqwa).

Penulis: Ari Loru

PAGI tadi saya menyeruput kopi hitam. Tanpa gula.

Pahitnya perlahan memenuhi lidah, lalu membawa pikiran saya kepada mereka yang setiap hari bersentuhan dengan tanah, lumpur, panas matahari, hujan, pupuk, cangkul, dan ketidakpastian harga.

Mereka adalah petani.

Hari ini, 24 September 2026, kita kembali memperingati Hari Tani Nasional. Sebuah hari yang seharusnya tidak berhenti pada ucapan, spanduk, seremoni, atau unggahan di media sosial.

Baca Juga: Merdeka Di Atas Luka Bangsa

Sebab di balik setiap butir nasi yang kita makan, ada tangan-tangan yang bekerja jauh sebelum kita duduk di meja makan.

Petani menanam ketika kita tidur.

Mereka menyusuri pematang ketika sebagian dari kita masih menikmati bantal.

Mereka berhadapan dengan panas, hujan, hama, harga pupuk, biaya produksi, hingga harga jual hasil panen yang tidak selalu bersahabat.

Namun setiap musim tanam datang, mereka kembali menanam. Mengapa? Karena hidup harus terus berjalan.

Data BPS menunjukkan bahwa sepanjang 2025 Indonesia memiliki luas panen padi sekitar 11,32 juta hektare, dengan produksi padi mencapai sekitar 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksinya sekitar 34,69 juta ton.

Baca Juga: Partai Nonparlemen Mengejar PT: Seperti MU Memburu Trofi Premier League

Angka-angka itu besar.

Tetapi jangan sampai besarnya angka membuat kita lupa bahwa di baliknya ada manusia.

Ada petani.

Ada keluarga petani.

Ada kehidupan yang bergantung pada sebidang tanah dan musim yang tidak selalu bisa mereka kendalikan.

Pada Agustus 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional berada di angka 129,19, naik 1,05 persen dibandingkan Juli 2026. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga berada di angka 133,33, naik 0,98 persen.

Angka itu memberi gambaran tentang daya tukar dan kondisi usaha petani secara agregat.

Tetapi sekali lagi, angka tidak pernah mampu menceritakan seluruh kisah.

Baca Juga: Prabowo, Buku dan Isi Kepala: Ketika Pikiran Harus Dilawan dengan Pikiran

Sebab di sebuah desa, mungkin ada petani yang tetap menghitung uang receh setelah panen.

Ada yang menghitung biaya pupuk. Menghitung ongkos membajak sawah.
Menghitung upah buruh tani. Menghitung biaya sekolah anak.

Dan pada akhirnya, menghitung berapa yang tersisa untuk dibawa pulang.

Di situlah kita memahami bahwa persoalan petani bukan hanya soal produksi. Tetapi juga soal kesejahteraan.

Petani adalah manusia yang paling dekat dengan tanah, tetapi jangan sampai justru menjadi manusia yang paling jauh dari kesejahteraan.

Baca Juga: KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT

Negeri ini membutuhkan petani yang sejahtera. Sebab ketahanan pangan tidak mungkin hanya dibangun dari angka produksi. Ia dibangun dari keberanian menjaga kehidupan orang-orang yang berada di garis paling depan dalam menyediakan pangan.

Dan di tengah perubahan iklim yang menghadirkan ancaman kekeringan serta ketidakpastian musim, tantangan itu menjadi semakin nyata.

Karena itu, Hari Tani Nasional semestinya menjadi ruang untuk kembali bertanya:

Sudahkah negara benar-benar hadir di antara lumpur sawah dan keringat petani?

Bukan sekadar ketika panen tiba. Tetapi sejak benih ditanam.Ketika pupuk dibutuhkan. Ketika modal dicari.Ketika hama datang. Ketika hujan tak kunjung turun.

Baca Juga: Satu Nama yang Jadi Alasan Menjadi Gooners

Dan ketika hasil panen akhirnya harus dijual dengan harga yang menentukan, apakah dapur mereka tetap mengepul atau tidak?

Tidak semua kepahitan bisa diselesaikan dengan gula.Kadang, yang dibutuhkan adalah keadilan.

Hari ini, kopi saya tetap hitam. Tanpa gula.

Pahitnya mengingatkan saya kepada sebuah kenyataan sederhana: kita terlalu sering menikmati manisnya hasil pertanian, tetapi lupa pada pahitnya perjuangan orang yang menanamnya.

Maka di tengah El Nino, saya menitipkan harapan kepada Sang Khalik.

Baca Juga: Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan

Berkahilah bumi Indonesia tercinta.

Turunkan hujan pada waktunya.

Suburkan tanah yang mulai retak.

Kuatkan tangan-tangan petani yang setiap pagi kembali menyentuh tanah, meski mereka sendiri tidak pernah tahu pasti seperti apa hasil yang akan mereka bawa pulang.

Sebab petani bukan sekadar orang yang menanam padi. Mereka sedang menjaga kehidupan.

Selamat Hari Tani Nasional.

Untuk mereka yang menanam ketika sebagian dari kita masih terlelap. Untuk mereka yang tetap berharap ketika langit belum juga menurunkan hujan. Dan untuk mereka yang menggantungkan masa depan keluarganya pada tanah yang mereka rawat dengan penuh kesabaran.

Baca Juga: Dari Secangkir Kopi, Kita Membaca Arah Nakhoda Baru BGN

Kopi tetap hitam. Doa tetap kita titipkan kepada Tuhan.

Dan tanah Indonesia, semoga tidak pernah kehilangan orang-orang yang mau menanam harapan di atasnya.

Sebab negeri yang ingin terus kenyang, tidak boleh membiarkan orang-orang yang menanamnya terus berjuang sendirian. (*)