KONAWE – PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) melalui Emergency Response Team (ERT) dan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdal Karhutla), terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Sepanjang pekan pertama Oktober 2026, tim gabungan PT SCM berhasil menangani kebakaran yang melanda kawasan sabana seluas sekitar 4 hektare di Desa Lalomerui.
Tim juga merespons titik api yang meluas dan berpotensi mengancam permukiman transmigrasi di Desa Parudongka dan Tirawonua.
Baca Juga: Soal Dokumen Pendidikan Gibran, KPU Jelaskan Proses Verifikasi Pilpres 2024
Penanganan tersebut dilakukan meski sejumlah titik kebakaran berada di luar wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan.
Dalam operasi tanggap darurat itu, PT SCM mengerahkan personel dari ERT, External Affairs (EA), Occupational Health and Safety & Assets Protection (OHS & AP), pengamanan objek vital (Pamobvit), Kepolisian, Babinsa, serta relawan setempat.
Operasi pemadaman turut didukung armada taktis berupa Fire Truck, kendaraan operasional, dan Water Truck untuk memastikan ketersediaan pasokan air selama proses pemadaman di lokasi terdampak.
Baca Juga: Gibran Tak Didiskualifikasi MK, PSI Soroti Proses Penyetaraan Pendidikan
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT SCM, Didik Fotunadi mengatakan, keselamatan masyarakat dan personel menjadi prioritas utama dalam setiap operasi penanganan Karhutla.
“Kami menginstruksikan tim untuk mengutamakan keselamatan dan memprioritaskan penanganan kebakaran yang paling dekat dengan permukiman warga serta tidak memaksakan tindakan jika situasi berbahaya,” kata Didik, Kamis (8/10/2026).
Menurut dia, penanganan Karhutla tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional maupun di luar area IUP.
Baca Juga: Kericuhan di Morowali: 53 TKA China Diperiksa, Polisi Dalami Keterlibatan Mereka
Saat ini, sejumlah titik utama kebakaran telah dinyatakan aman dan terkendali. Di Desa Lalomerui, api disebut telah padam total dan tidak lagi terlihat asap sejak operasi pemadaman dilakukan pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, di Desa Parudongka, tim PT SCM berhasil melakukan pemadaman di sekitar permukiman transmigrasi pada Rabu (7/10/2026) sekitar pukul 11.20 WITA.
Setelah pemadaman, personel PT SCM masih bersiaga di sekitar perumahan warga. Tim menunggu arahan lebih lanjut dari Polsek dan pemerintah desa untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api susulan yang masih berpotensi mengarah ke permukiman.
Baca Juga: MK Tolak Gugatan Sengketa Pencalonan Gibran, Ini 3 Poin Penting Putusannya
Sebagai langkah mitigasi, manajemen PT SCM bersama ERT dan Brigdal Karhutla juga melakukan pemantauan secara berkala melalui fase pendinginan atau cooling down.
Perusahaan memastikan armada penyiram air tetap dalam kondisi siap digunakan dan memperketat prosedur asesmen keselamatan sebelum personel melakukan manuver maupun mobilisasi ke wilayah yang sulit dijangkau dan rawan terbakar.
Kondisi cuaca yang cerah dan kering menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat rambatan kebakaran permukaan, terutama di kawasan sabana dan semak belukar.
Baca Juga: Polda Sulteng Gelar Rakernis SDM, Ini Pesan Wakapolda Helmi Kwarta
Di Lalomerui, api dilaporkan bergerak cepat sejak pagi hari sehingga tim harus melakukan penanganan dari area bawah hingga sisi sayap api untuk menghentikan perambatannya.
Situasi serupa terjadi di Parudongka. Tim bergerak sejak pagi menuju kawasan permukiman transmigrasi untuk melakukan asesmen sekaligus menghentikan pergerakan api agar tidak mencapai hunian warga.
Penanganan Karhutla tersebut melibatkan sinergi antara PT SCM, pemerintah desa, Kepolisian, Babinsa, dan masyarakat.
Baca Juga: Polres Sigi Tegaskan Komitmen Hadir, Melayani dan Melindungi Masyarakat
Kolaborasi lintas sektor dilakukan untuk mempercepat respons sekaligus mengurangi risiko kebakaran terhadap lingkungan dan permukiman.
PT SCM menyatakan akan terus memantau kondisi di sejumlah wilayah rawan kebakaran dan mempertahankan kesiapsiagaan personel maupun armada untuk merespons laporan masyarakat terkait potensi Karhutla.***













