OLAHRAGA

Drama Penalti di GBK Berakhir Manis, Calvin Verdonk Tegaskan Era Baru Indonesia

×

Drama Penalti di GBK Berakhir Manis, Calvin Verdonk Tegaskan Era Baru Indonesia

Sebarkan artikel ini
Drama Penalti di GBK Berakhir Manis, Calvin Verdonk Tegaskan Era Baru Indonesia
Calvin Verdonk merayakan keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand lewat adu penalti di GBK. (Foto: instagram/@c.verdonk)

JAKARTA – Sepak bola terkadang memberikan kesempatan kedua kepada sebuah generasi untuk mengubah cerita yang pernah berakhir pahit.

Di tempat yang sama, menghadapi lawan yang sama dan kembali ditentukan melalui adu penalti, Timnas Indonesia akhirnya menemukan akhir berbeda.

Baca Juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Ole Romeny Ungkap Makna Trofi bagi Garuda

Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) menjadi saksi ketika masa lalu yang selama bertahun-tahun membayangi Indonesia berubah menjadi bagian dari sejarah yang berhasil ditinggalkan.

Thailand sebelumnya pernah menjadi lawan yang menghadirkan kenangan pahit bagi Indonesia dalam drama adu penalti di GBK. Pada SEA Games 1997 dan Piala AFF 2002, Indonesia harus menerima kekalahan dari titik putih setelah kedua pertandingan final berakhir imbang.

Namun, ketika Indonesia dan Thailand kembali bertemu dalam final FIFA ASEAN Cup 2026, generasi baru Garuda mendapatkan kesempatan untuk menulis cerita mereka sendiri.

Baca Juga: Malam Bersejarah Emil Audero, Kiper Rayo Vallecano Antar Indonesia Juara

Kesempatan tersebut berhasil dimanfaatkan. Setelah pertandingan berlangsung ketat hingga 90 menit dan babak tambahan dengan skor 2-2, Indonesia kembali menghadapi situasi yang pernah menjadi sumber kekecewaan. Kali ini, drama adu penalti justru berakhir manis.

Indonesia menang 4-2 dalam adu penalti dan memastikan gelar juara edisi perdana FIFA ASEAN Cup.

Bagi Calvin Verdonk, kemenangan tersebut bukan sekadar tentang memutus catatan buruk masa lalu. Bek Timnas Indonesia itu melihat keberhasilan tersebut sebagai tanda bahwa skuad Garuda kini telah memasuki fase baru.

Baca Juga: Garuda Ukir Sejarah! Indonesia Taklukkan Thailand Lewat Drama Adu Penalti

“Rasanya sangat luar biasa. Saya sempat melihat catatan rekor-rekor terdahulu, tapi itu semua sudah tidak penting lagi karena sekarang adalah era baru dengan susunan pemain yang baru,” ujar Verdonk kepada FIFA.

Menurut pemain berusia 29 tahun tersebut, masa lalu tetap menjadi bagian dari perjalanan Timnas Indonesia. Namun, generasi saat ini memiliki kesempatan untuk menciptakan sejarahnya sendiri tanpa terus dibebani hasil-hasil dari masa sebelumnya.

Verdonk juga tidak menganggap Indonesia tampil sempurna sepanjang final. Pertandingan berjalan dengan dinamika yang berubah-ubah hingga akhirnya harus diselesaikan melalui adu penalti.

Baca Juga: Presiden Federasi Portugal Ungkap Kesalahpahaman Ronaldo dan Jorge Jesus

“Itu tidak penting, yang utama kita menang. Trofi pertama… Ya, pertandingan yang gila. Kami harus tampil lebih baik lagi, tapi kami menang. Jadi tidak masalah,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bagi Verdonk, hasil akhir menjadi hal terpenting dalam pertandingan final. Kesempurnaan permainan bukan satu-satunya ukuran ketika sebuah tim harus menghadapi tekanan besar untuk merebut trofi.

Verdonk sendiri menjadi salah satu pemain yang harus beradaptasi dengan perubahan taktik selama pertandingan. Ia memulai laga di posisi bek atau sayap kiri sebelum digeser ke lini tengah dan kemudian kembali ke sisi kiri.

Baca Juga: 67 Ribu Tiket Ludes, SUGBK Bakal Membara di Final Indonesia vs Thailand

“Di babak pertama saya bermain di bek/sayap kiri, itu posisi asli saya. Saya merasa sangat nyaman di sana. Namun pelatih ingin melakukan beberapa perubahan taktik, dan saya selalu siap bermain di mana pun dia menempatkan saya—baik di gelandang tengah, lalu kembali ke sisi kiri. Singkatnya, di mana saja,” ujarnya.

Kemampuan pemain untuk menjalankan berbagai peran menjadi penting dalam pertandingan sebesar final. Ketika situasi pertandingan berubah, para pemain dituntut mampu beradaptasi dengan kebutuhan tim.

Prinsip yang sama juga berlaku ketika pertandingan memasuki babak adu penalti. Di tengah tekanan dan sejarah yang menyertai momen tersebut, pelatih John Herdman memberikan pesan sederhana kepada para pemainnya.

Baca Juga: Tinggalkan Kamp Portugal, Cristiano Ronaldo Bisa Kena Sanksi Berat

“Dia meminta kami untuk terus percaya—cukup percaya bahwa kita bisa,” ungkap Verdonk.

Kepercayaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pemain yang mengambil tendangan penalti. Menurut Verdonk, seluruh pemain harus melewati tekanan tersebut bersama-sama.

“Saya rasa untuk semua pemain. Ini adalah pertandingan yang sangat berat, tetapi kami terus mempercayai satu sama lain. Jadi ya, menurut saya seluruh pemain berhak mendapatkan penghargaan positif,” lanjutnya.

Baca Juga: Spanyol Belum Terbendung! Ceko Jadi Korban Ketiga La Roja

Gelar FIFA ASEAN Cup pun tidak membuat Verdonk ingin berhenti. Ia menyadari tantangan yang lebih besar sudah menanti Timnas Indonesia, termasuk pertemuan dengan Thailand di Piala Asia serta pertandingan menghadapi Jepang dan Qatar.

“Kami punya peluang saat menghadapi Thailand dan Qatar. Melawan Jepang pun kami tetap punya peluang, meski harus diakui mereka berada di level yang berbeda,” tuturnya.

Pernyataan Verdonk menunjukkan adanya keyakinan sekaligus kesadaran terhadap standar yang harus dicapai Indonesia. Gelar FIFA ASEAN Cup memberikan pencapaian baru bagi Garuda, tetapi sekaligus menjadi tolok ukur untuk melihat seberapa jauh perkembangan tim.

Baca Juga: Rekor Buruk Kroasia Tercipta, Inggris Menang Telak 7-0 di Rijeka

Jika keberhasilan di FIFA ASEAN Cup menjadi awal dari sebuah era baru, tantangan berikutnya adalah menjadikan trofi tersebut sebagai pijakan untuk bersaing di level yang lebih tinggi.

Beberapa hari sebelum pertandingan final, Verdonk juga sempat menghabiskan waktu bersama anak-anak dalam sebuah kegiatan. Setelah mengangkat trofi bersama Timnas Indonesia, pikirannya kembali tertuju kepada generasi muda yang suatu hari mungkin akan mengenakan jersey Merah Putih.

“Saya rasa sangat penting untuk sering mengunjungi mereka. Saya pribadi sangat suka melakukan hal itu. Saya tahu situasi tidak selalu mudah bagi anak-anak tersebut, tetapi mereka harus terus melangkah. Semoga mereka memiliki masa depan yang cerah,” tutupnya.

Baca Juga: Masa Depan Makin Panas, Arsenal dan Barcelona Berebut Erling Haaland

Bagi Timnas Indonesia, kemenangan atas Thailand telah mengubah salah satu catatan sejarah. Namun bagi Verdonk dan generasi Garuda saat ini, tantangan sebenarnya justru baru dimulai.

Masa lalu telah berhasil mereka lewati. Kini, setelah meraih trofi FIFA ASEAN Cup, Timnas Indonesia memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa era baru tersebut bukan sekadar kata-kata, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang.***