OPINI

IJAZAH DI LAYAR, ASAP DI UDARA

×

IJAZAH DI LAYAR, ASAP DI UDARA

Sebarkan artikel ini
IJAZAH DI LAYAR, ASAP DI UDARA
Asap tebal Karhutla di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada Selasa 13 Oktober pukul 17.00 WIB. Foto bawah: tayangan kanal YouTube acara di Tv One yang membahas putusan MK soal ijazah Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Foto: rumah zakat kalbar/Tv One).

Penulis: Ari Loru

Ketika politik ramai dibicarakan, siapa yang berbicara untuk udara yang dihirup rakyat? Siapa?

Sekarang, sudah memasuki separuh jalan bulan Oktober. Sejak awal Oktober, kopi hitam tanpa gulaku ada yang mengganggu suasana batin.

Bukan pahitnya kopi.

Bukan pula karena tak ada gula.

Tetapi asap yang mengepul di udara, membuat setiap tegukan terasa berbeda.

Langit biru Sulteng sayup. Gunung Gawalise dan Salena tak terlihat.

Baca Juga: KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT

Kopi hitamku terasa manis, bukan karena gula, tetapi karena getirnya Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang perlahan menyelimuti langit.

Televisi dan media sosial hari-hari ini seperti sedang mengalami dua pembelahan.

Di satu sisi, ruang publik kembali diguncang polemik ijazah yang menyeret jagat raya politik. Perdebatan tentang dokumen, keaslian, hukum, dan legitimasi kembali memenuhi layar. Berbagai pihak menyampaikan pendapat. Potongan video beredar. Pernyataan demi pernyataan diperdebatkan.

Ruang publik menjadi riuh.

Di sisi lain, ada sesuatu yang jauh lebih sunyi: asap.

Ia tidak punya akun media sosial. Tidak punya panggung. Tidak punya mikrofon. Tidak bisa membuat konferensi pers. Ia hanya bergerak mengikuti angin, menyusup ke ruang hidup manusia, lalu meninggalkan pertanyaan tentang udara yang kita hirup setiap hari.

Baca Juga: Kopi No Sugar di Rabu Pagi: Ketika Garuda Mengangkat Trofi dan MK Mengetuk Palu

Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, dan kini Indonesia Timur. Dan Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah yang ikut merasakan dampaknya.

Di sini, persoalannya menjadi sederhana.

Kita bisa memperdebatkan ijazah. Tetapi kita tidak bisa memperdebatkan udara yang kita hirup.

Polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tentu penting. Kebenaran harus dicari. Dokumen negara harus jelas. Hukum harus bekerja. Kepercayaan publik tidak boleh dibangun di atas kabut informasi.

Namun, di tengah riuhnya perdebatan itu, ada pertanyaan yang layak kita ajukan: bagaimana dengan rakyat yang tidak sedang berdebat?

Mereka hanya sedang bernapas.

Mereka tidak sedang menyusun argumentasi di studio televisi. Tidak sedang beradu pendapat di media sosial. Tidak pula sibuk menghitung siapa yang menang dalam pertarungan opini.

Baca Juga: Nalar Filosof dan Kursi Wantimpres Rocky Gerung

Mereka hanya ingin menjalani hari seperti biasa.

Anak-anak berangkat sekolah. Orang tua bekerja. Pedagang membuka lapak. Pengendara melintasi jalan. Petani mengurus kebun. Semua membutuhkan udara yang layak untuk dihirup.

Tetapi ketika asap datang, hal sederhana itu tidak lagi terasa sederhana.

Udara yang semestinya menjadi hak bersama berubah menjadi sumber kecemasan.

Dan udara yang mereka hirup tidak mengenal rating televisi. Tidak mengenal algoritma media sosial. Tidak mengenal kubu politik.

Asap tidak bertanya siapa yang memilih siapa. Ia tidak bertanya siapa pendukung pemerintah dan siapa penentangnya. Ia tidak memeriksa warna partai sebelum memasuki paru-paru manusia.

Baca Juga: Prabowo, Buku dan Isi Kepala: Ketika Pikiran Harus Dilawan dengan Pikiran

Ia hanya masuk ke ruang hidup manusia. Lalu, di mana suara politik ketika persoalan itu berlangsung?

Para politisi. Di sinilah saya ingin bertanya.
Di mana suara kalian ketika rakyat Indonesia Timur mulai menghirup asap?

Bukan berarti polemik ijazah harus dihentikan. Tidak. Politik memang harus berbicara. Kebenaran harus diperjuangkan. Hukum harus ditegakkan.

Tetapi politik juga harus mampu melihat persoalan lain yang sedang berlangsung.

Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan politisi ketika ada pemilu. Rakyat juga membutuhkan suara politik ketika hutan terbakar. Ketika udara memburuk. Ketika anak-anak harus menghirup udara yang tidak lagi sehat. Ketika langit yang biasanya biru berubah menjadi kelabu.

Politisi memiliki panggung. Memiliki mikrofon. Memiliki akses kepada ruang kebijakan.

Maka gunakanlah suara itu.

Baca Juga: Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan

Bicaralah tentang karhutla. Bicaralah tentang kualitas udara. Bicaralah tentang kesehatan rakyat. Bicaralah tentang perlindungan hutan. Bicaralah tentang Indonesia Timur.

Bukan sekadar mengunggah foto dengan latar langit yang menggelap. Bukan pula sekadar menyampaikan keprihatinan yang selesai setelah menjadi berita sehari.

Dorong langkah nyata. Minta penjelasan dari lembaga yang berwenang. Awasi penanganan kebakaran. Pastikan informasi kualitas udara disampaikan kepada masyarakat. Desak perlindungan bagi kelompok rentan dan penegakan hukum terhadap pembakaran hutan dan lahan.

Sebab suara politik memiliki kekuatan yang tidak dimiliki asap.

Asap hanya bergerak mengikuti angin. Suara politik dapat menggerakkan kebijakan.

Baca Juga: Merdeka Di Atas Luka Bangsa

Persoalan ini juga tidak berhenti di batas Sulawesi Tengah. Kabut asap merupakan persoalan yang dapat bergerak melintasi wilayah, bahkan batas negara. Ketika angin membawa asap dari satu kawasan ke kawasan lain, manusia di tempat berbeda ikut menanggung akibatnya.

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara kembali menghadapi persoalan kabut asap lintas batas. Malaysia pun merasakan dampaknya, termasuk melalui penutupan sekolah di sejumlah wilayah ketika kualitas udara memburuk.

Asap akhirnya menunjukkan sesuatu yang sederhana. Batas negara bisa dibuat oleh manusia. Tetapi udara tidak mengenal batas.

Karena itu, persoalan karhutla bukan lagi sekadar urusan daerah. Bukan hanya urusan provinsi. Bukan hanya urusan pemerintah pusat. Ia membutuhkan kerja bersama, mulai dari pencegahan, pemantauan titik panas, penegakan hukum, pemulihan lingkungan, hingga kerja sama regional.

Mengapa suara tentang asap justru terdengar lebih jauh di luar negeri daripada di ruang politik kita sendiri?

Baca Juga: Satu Nama yang Jadi Alasan Menjadi Gooners

Pertanyaan ini bukan tuduhan kepada semua politisi. Bukan pula ajakan untuk mengabaikan polemik yang sedang berlangsung.

Ini adalah panggilan.

Agar ruang politik kita tidak hanya dipenuhi persoalan tentang siapa benar dan siapa salah. Tetapi juga tentang bagaimana negara memastikan rakyat dapat hidup dengan aman.

Sebab negara bukan hanya hadir di ruang sidang. Bukan hanya di parlemen. Bukan hanya di layar televisi.

Negara juga harus hadir ketika langit mulai kelabu.

Kita tentu berharap polemik ijazah menemukan kejelasan melalui mekanisme hukum dan pembuktian yang semestinya. Tidak perlu ada kebenaran yang dipaksakan. Tidak perlu pula ada fakta yang disembunyikan.

Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)

Namun, sembari perdebatan itu berlangsung, kehidupan tidak berhenti menuntut perhatian.

Di Sulawesi Tengah, udara tetap harus dihirup. Di Indonesia Timur, masyarakat tetap harus menjalani hari. Di wilayah yang terdampak asap, kesehatan manusia tetap membutuhkan perlindungan.

Mungkin inilah wajah lain dari Indonesia yang jarang masuk ke layar utama. Indonesia yang tidak sedang berdebat tentang kekuasaan.

Indonesia yang hanya sedang berusaha bernapas.

Yang viral memang lebih cepat didengar daripada yang nyata. Tetapi bukankah tugas politik memastikan bahwa yang tidak viral pun tetap didengar?

Polemik boleh berjalan.

Kebenaran tentang sebuah dokumen boleh terus dicari.

Hukum harus tetap bekerja.

Baca Juga: Partai Nonparlemen Mengejar PT: Seperti MU Memburu Trofi Premier League

Tetapi jangan sampai satu perdebatan membuat kita lupa bahwa ada rakyat yang sedang menghadapi persoalan lain yang jauh lebih dekat dengan tubuh mereka.

Sebab pada akhirnya, politik boleh gaduh. Perdebatan boleh panjang. Kebenaran tentang sebuah dokumen boleh terus dicari.

Tetapi rakyat tetap membutuhkan satu hal yang sederhana: udara yang bersih untuk bernapas.

Baca Juga: Senyum Chiki Fawzi Penalar Luka Tamiang

Dan ketika Gunung Gawalise dan Salena tak terlihat dari balik kabut karhutla, mungkin pertanyaan terbesar kita bukan lagi siapa yang paling keras berbicara.

Melainkan:

siapa yang benar-benar sedang mendengar?

Seruput Kopi Hitam. (*)

CATATAN DATA

1. Sebaran asap di Indonesia Timur

BMKG melalui analisis dinamika atmosfer dan pemantauan satelit pada Oktober 2026 melaporkan sebaran asap di sejumlah wilayah, termasuk bagian Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Sumber: “BMKG — Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Oktober 2026” (https://www.bmkg.go.id/iklim/analisis-dinamika-atmosfer-dasarian-i-oktober-2026)

2. Kabut asap di Sulawesi Tengah

Informasi regional pada Oktober 2026 menyebutkan bahwa sejumlah wilayah Sulawesi Tengah terdampak kabut asap karhutla. Kondisi ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan kualitas udara dan aktivitas masyarakat.

Sumber: “RRI — Kabut Asap Karhutla Kiriman Serbu Sulawesi Tengah” (https://rri.co.id/palu/regional/2791009/kabut-asap-karhutla-kiriman-serbu-sulawesi-tengah)

3. Sinyal kualitas udara dan pemantauan atmosfer

Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menjelaskan pentingnya membaca indikator atmosfer, termasuk titik panas, arah angin, aerosol, dan PM2.5, untuk mengantisipasi dampak asap.

Sumber: “GAW Lore Lindu Bariri — Ketika Data Sudah Memberi Sinyal, Mengapa Kita Masih Menunggu Asap?” (https://gaw-bariri.bmkg.go.id/publikasi/artikel/553-ketika-data-sudah-memberi-sinyal-mengapa-kita-masih-menunggu-asap)

4. Dampak asap lintas batas

Reuters melaporkan bahwa para menteri luar negeri ASEAN dijadwalkan membahas persoalan kabut asap lintas batas dalam pertemuan November 2026.

Sumber: “Reuters, 13 Oktober 2026” (https://www.reuters.com/business/environment/asean-foreign-ministers-tackle-transboundary-haze-november-meetings-2026-10-13/)

5. Dampak kabut asap di Malaysia

Reuters melaporkan penutupan sekolah di sejumlah negara bagian dan wilayah Malaysia pada Oktober 2026 akibat kondisi kabut asap.

Sumber: “Reuters, 9 Oktober 2026” (https://www.reuters.com/business/environment/malaysia-closes-schools-several-states-territories-due-haze-2026-10