Penulis: Ari Loru
Kopi no sugar di Rabu pagi terasa lebih spesial.
Rasa-rasanya, cemilan kopi hitam tanpa gula kita pagi ini lebih klimaks mix-nya dengan persembahan sebuah trofi, ketimbang kopi yang beraroma peta konstelasi politik 2029.
Ada rasa pahit yang tiba-tiba terasa manis.
Garuda akhirnya mengangkat trofi.
Setelah perjalanan panjang, setelah berkali-kali berharap, kecewa, kemudian kembali berharap, Indonesia akhirnya menorehkan sejarah sebagai juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026.
Baca Juga: Nalar Filosof dan Kursi Wantimpres Rocky Gerung
Di tangan Kevin Diks dan kawan-kawan, trofi itu seperti menjadi jawaban dari doa yang terlalu lama kita titipkan kepada langit.
Indonesia menundukkan Thailand melalui drama panjang 2-2 hingga perpanjangan waktu, sebelum akhirnya menang 4-2 melalui adu penalti. Dean James dan Elkan Baggott menjadi pencetak gol Indonesia. Sementara Emil Audero tampil menentukan ketika menggagalkan salah satu penalti Thailand. FIFA mencatat, gelar tersebut merupakan gelar perdana Indonesia di FIFA ASEAN Cup.
Dan saya teringat 2010.
Saat itu, belum selesai euforia Piala Dunia Afrika Selatan dengan tembang fenomenal Shakira, Waka Waka, muncul wajah-wajah baru di Timnas Indonesia.
Nama Christian Gonzales dan Irfan Bachdim menjadi bagian dari skuad Indonesia di AFF 2010. Wajah baru, harapan baru, dan sebuah keyakinan bahwa Garuda suatu hari akan terbang lebih tinggi.
Sejak saat itu, kecintaan terhadap Timnas seperti tidak terbendung. Satu per satu nama silih berganti mengisi jersey Garuda.
Jangan tanyakan kecintaan supporter.
Bahkan ketika sepak bola Indonesia pernah diguncang dualisme kepengurusan, ketika PSSI dan KPSI berada dalam konflik yang membuat sepak bola nasional terbelah, kecintaan kepada Timnas tidak pernah benar-benar ikut terbelah.
Baca Juga: Partai Nonparlemen Mengejar PT: Seperti MU Memburu Trofi Premier League
Pada 2011–2013, konflik PSSI dan KPSI bahkan sampai memunculkan dua kepengurusan dan kompetisi yang berjalan dalam suasana penuh pertentangan. Penyelesaian konflik kemudian ditempuh melalui kesepakatan yang mengarah pada penyatuan kompetisi dan KLB PSSI pada 17 Maret 2013.
Dalam KLB tersebut, KPSI resmi dibubarkan dan sejumlah agenda penyatuan sepak bola nasional disepakati.
Tetapi ada sesuatu yang menarik.
Organisasi boleh gaduh.
Pengurus boleh berkonflik.
Kompetisi boleh terpecah.
Namun Garuda tetap berada di dada.
Garuda bukan milik satu pengurus. Garuda adalah milik Merah Putih. Sebab bagi supporter, Timnas bukan sekadar sebelas orang yang berlari mengejar bola.
Ia adalah identitas.
Ia adalah rumah.
Ia adalah Merah Putih yang bergerak di atas rumput hijau.
Sepak bola kita mungkin pernah berada di tepi keterasingan. Tetapi satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang: kecintaan orang-orang kepada Garuda.
Di mana pun kalian bermain, kami selalu ada.
Mendukung.
Berteriak.
Bernyanyi.
Baca Juga: Merdeka Di Atas Luka Bangsa
Bahkan ketika kemenangan belum menjadi kebiasaan. Dan malam bersejarah itu bukan hanya milik pemain.
Para artis hadir. Para politisi turut memberikan dukungan. Tetapi pada akhirnya, ketika peluit panjang berbunyi dan kemenangan benar-benar menjadi milik Indonesia, semua sekat itu seperti hilang.
Yang tersisa hanya satu nama: Indonesia.
Lalu datanglah sebuah adegan yang membuat malam itu terasa berbeda. Para pemain berkumpul dan saling berangkulan menghadap para pendukung.
Ada yang tersungkur.
Ada yang menangis.
Ada yang menatap langit.
Baca Juga: Daun yang Jatuh, Angin yang Tak Pernah Disalahkan
Ada yang memeluk rekannya seakan ingin memastikan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan mimpi. Penantian itu akhirnya selesai.
Dan kemudian Anggun C. Sasmi hadir dengan suara yang lirih.
Bukan Indonesia Pusaka.
Tetapi Tanah Airku, karya Ibu Sud.
Setelah Indonesia memastikan gelar juara, Anggun kembali tampil dan membawakan Tanah Airku. Kamera menangkap emosinya; air mata tampak jatuh ketika lagu itu dinyanyikan. Para pemain pun berkumpul dan ikut larut dalam suasana haru bersama para suporter.
Suara itu mengalun.
Dan tangis Anggun seperti bukan hanya miliknya.
Ia seperti membawa seluruh tangis orang-orang yang selama bertahun-tahun mencintai Garuda.
Orang-orang yang pernah berharap.
Pernah kecewa.
Pernah mencibir.
Tetapi selalu kembali.
Baca Juga: Prabowo, Buku dan Isi Kepala: Ketika Pikiran Harus Dilawan dengan Pikiran
Karena cinta kepada tanah air ternyata tidak mengenal kata pensiun. Dalam lirih bait syair itu, Anggun seperti menyampaikan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah lagu.
Bahwa mereka yang berdiri mengenakan jersey Garuda bukan sekadar pemain yang datang membawa nama besar.
Mereka adalah anak-anak bangsa. Mereka yang kembali. Kembali berdiri di bawah Merah Putih. Kembali membela tanah air.
Dan entah mengapa, kalimat itu terasa begitu dekat denganku.
Sama seperti aku. Kembali malam ini.
Baca Juga: KALIMANTAN TERBAKAR, DUNIA MELIHAT
Menyampaikan lewat lirih Tanah Airku, bahwa kami kembali untuk Sang Merah Putih. Bukan karena kami selalu menang. Bukan karena perjalanan ini selalu mudah. Tetapi karena ada sesuatu yang lebih besar daripada kemenangan dan kekalahan:
rasa memiliki kepada tanah air.
Mungkin itulah mengapa malam itu terasa begitu sakral. Di tengah lapangan, para pemain masih saling berpelukan.
Di tribun, suara supporter belum berhenti.
Dan dari panggung, suara Anggun seperti menyelimuti Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Untuk sesaat, kita semua seperti kembali menjadi satu.
Garuda di dada.
Merah Putih di hati.
Indonesia di antara keduanya.
***
Pagi Rabu kemudian membawa kita kepada cerita yang berbeda. Kopi hitam no sugar kembali mengepul di meja.
Di satu sisi, kita masih menikmati euforia trofi yang baru saja dipersembahkan.
Baca Juga: Dari Agus ke Syafiah: Babak Baru Politik PSI di Tanah Tadulako
Di sisi lain, Mahkamah Konstitusi (MK) mengetukkan palunya dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2024, Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026.
Dalam putusan yang dibacakan pada 6 Oktober 2026, MK menyatakan permohonan para Pemohon tidak dapat diterima. MK juga menyatakan tidak dapat mendiskualifikasi Gibran sebagai Wakil Presiden karena persoalan tersebut tidak lagi dapat diperiksa dalam rezim penyelesaian sengketa hasil Pilpres setelah pasangan terpilih dilantik.
Biarkan siapa berteriak menang dalam jumpa pers kedua kuasa hukum setelah persidangan.
Sebab kemenangan dalam ruang politik tidak selalu identik dengan kemenangan dalam konstruksi hukum.
Begitu pula sebaliknya. Ada ruang yang bernama lapangan hijau. Ada ruang yang bernama ruang konstitusi.
Di lapangan hijau, kemenangan dihitung dari gol dan adu penalti.
Baca Juga: Air Mata di Pelepuk Mualem (Muzakir Manaf)
Di ruang konstitusi, persoalan dibaca melalui hukum, kewenangan, kedudukan hukum, bukti, serta amar putusan.
Dua panggung yang berbeda. Tetapi sama-sama menyisakan riuh di ruang publik.
Dan isu ijazah ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan politik nasional. Ia bukan lagi sekadar cerita tentang selembar dokumen.
Ia telah berkembang menjadi perdebatan yang menyentuh syarat pencalonan, administrasi negara, hukum pemilu, dan kepercayaan publik.
Maka biarlah hukum bekerja di ruangnya. Biarlah argumentasi diuji dengan bukti.
Dan biarlah publik membaca setiap putusan dengan kepala dingin. Sebab demokrasi tidak dibangun dari sorak kemenangan semata.
Ia dibangun dari kesediaan menerima proses.
Seperti sepak bola. Kita boleh mencintai pemain. Kita boleh mencintai klub. Kita boleh mencintai Timnas. Tetapi tetap harus menghormati aturan permainan.
Baca Juga: Satu Nama yang Jadi Alasan Menjadi Gooners
Begitu pula dalam demokrasi. Kita boleh memiliki pilihan. Tetapi hukum tetap harus memiliki ruang untuk berbicara.
Panggung pertama berada di lapangan hijau. Garuda mengangkat trofi. Panggung kedua berada di ruang konstitusi.
Palu diketukkan.
Yang satu menghasilkan sorak.
Yang satu menghasilkan perdebatan.
Dan kita? Kita kembali kepada secangkir kopi. Kopi hitam. Tanpa gula. Pahit, tetapi jujur.
Tentang 2029?
Ah.., Biarlah peta konstelasinya diseduh kemudian. Jangan buru-buru. Kopi kita masih panas. Sebab politik terlalu panjang untuk ditebak hanya dari satu pagi.
Baca Juga: Senyum Chiki Fawzi Penalar Luka Tamiang
Dan sejarah terlalu besar untuk ditulis hanya dari satu kemenangan. Pagi ini, izinkan kita menikmati sesuatu yang sederhana:
Garuda telah membawa pulang trofi.
Merah Putih telah berkibar.
Dan untuk sesaat, kita semua kembali percaya bahwa sesuatu yang lama ditunggu, suatu hari bisa benar-benar datang.
Salam akal sehat. (*)
Sumber Data
1. FIFA — laporan final FIFA ASEAN Cup 2026 Indonesia vs Thailand, 5 Oktober 2026.
2. ANTARA — laporan penyerahan trofi FIFA ASEAN Cup 2026 kepada kapten Kevin Diks.
3. Bola.com — laporan penampilan Anggun C. Sasmi dan lagu Tanah Airku setelah Indonesia menjadi juara.
4. ANTARA — sejarah penyelesaian konflik PSSI–KPSI dan pembubaran KPSI pada KLB PSSI 17 Maret 2013.
5. Kompas — proses penyelesaian konflik PSSI dan KPSI menuju penyatuan sepak bola nasional pada 2013.
6. ANTARA — laporan putusan MK perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 mengenai sengketa PHPU Presiden dan Wakil Presiden 2024.













