KESEHATAN – Hati merupakan salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia. Organ ini membantu memproses berbagai zat yang masuk ke tubuh, memproduksi empedu untuk membantu pencernaan, serta berperan dalam metabolisme protein, karbohidrat dan lemak.
Karena memiliki begitu banyak fungsi penting, kesehatan hati perlu dijaga melalui pola makan dan gaya hidup sehari-hari. Selain alkohol, beberapa jenis makanan dan minuman juga perlu diperhatikan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Baca Juga: Ahli Gastroenterologi Ungkap 7 Minuman yang Bisa Mendukung Kesehatan Hati
Ahli gastroenterologi dan endoskopi intervensi Saurabh Sethi, MD, menyoroti beberapa jenis makanan yang menurutnya perlu dibatasi untuk menjaga kesehatan hati. Berikut tiga di antaranya.
1. Makanan dan Minuman Tinggi Fruktosa Tambahan
Fruktosa merupakan salah satu jenis gula yang secara alami terdapat pada buah. Namun, jumlah dan sumbernya menjadi penting karena makanan serta minuman olahan dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi.
Fruktosa diproses terutama oleh hati. Ketika asupan gula tambahan terlalu tinggi dan berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap gangguan metabolisme dan penumpukan lemak di hati pada sebagian orang.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pengusir Kantuk, Kafein Diteliti untuk Melawan Dampak Stres
Sumber gula tambahan yang perlu diperhatikan antara lain minuman bersoda, minuman manis, makanan ringan olahan, sereal berpemanis, kue, serta berbagai produk makanan dan minuman dengan tambahan gula.
Sejumlah penelitian telah mengaitkan konsumsi fruktosa berlebihan dengan peningkatan risiko penyakit hati berlemak. Namun, hal ini tidak berarti bahwa semua makanan yang mengandung fruktosa harus dihindari.
Fruktosa yang berasal dari buah utuh berbeda dengan gula tambahan dalam minuman manis. Buah utuh juga menyediakan serat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh.
Baca Juga: Wagub Reny Perkuat Sinergi BPJS, 217 Ribu Warga Nikmati Berani Sehat
Karena itu, yang perlu menjadi perhatian terutama adalah asupan gula tambahan dan minuman manis secara berlebihan.
2. Minyak Nabati yang Digunakan Secara Berlebihan, Terutama Dalam Makanan Ultra Proses
Jenis minyak yang digunakan dalam makanan juga sering menjadi bahan perdebatan terkait kesehatan. Sethi secara khusus mengingatkan konsumsi berlebihan minyak biji-bijian tertentu yang kaya akan asam lemak omega-6.
Minyak kedelai, jagung, dan bunga matahari termasuk minyak yang banyak digunakan dalam produk makanan olahan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pencernaan, Ini 4 Hubungan Penting antara Usus dan Otak
Namun, penting untuk tidak menyederhanakan persoalan seolah-olah minyak tersebut secara otomatis menyebabkan kerusakan hati. Omega-6 merupakan kelompok lemak yang tetap dibutuhkan tubuh. Yang lebih penting adalah jumlah keseluruhan lemak, kualitas pola makan, serta bagaimana minyak tersebut digunakan.
Makanan yang digoreng berulang kali atau dipanaskan dalam kondisi tertentu dapat mengalami perubahan kualitas dan menghasilkan berbagai produk oksidasi. Karena itu, membatasi konsumsi makanan yang digoreng berulang kali dan makanan ultra-proses merupakan langkah yang lebih masuk akal dibanding menghindari seluruh minyak nabati.
Untuk pola makan sehari-hari, variasi sumber lemak dan penggunaan minyak dalam jumlah wajar menjadi bagian penting dari pola makan seimbang.
Baca Juga: Dari Parepare hingga Palopo, LPS Bawa Program Kesehatan Gratis dan Donor Darah
3. Jus Buah, Bahkan yang 100 Persen Buah
Jus buah sering dianggap otomatis sehat karena berasal dari buah. Padahal, terdapat perbedaan penting antara mengonsumsi buah utuh dan meminum jus dalam jumlah besar.
Saat buah dijadikan jus, sebagian besar seratnya dapat berkurang, sementara gula alaminya menjadi lebih terkonsentrasi dan lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mendapatkan gula dalam jumlah lebih besar dalam waktu singkat dibandingkan ketika mengonsumsi buah utuh.
Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Terlihat Baik tetapi Bisa Membebani Otak Tanpa Anda Sadari
Sethi mengingatkan bahwa jus buah tetap mengandung fruktosa meskipun tidak memiliki tambahan gula. Karena itu, konsumsi jus dalam jumlah berlebihan perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang sedang berusaha mengendalikan berat badan atau kesehatan metaboliknya.
Bukan berarti jus buah harus sepenuhnya dihindari. Pilihan yang lebih baik adalah mengutamakan buah utuh dan menjadikan jus sebagai bagian kecil dari pola makan, bukan sumber utama konsumsi buah setiap hari.
Suplemen Tertentu Juga Perlu Diwaspadai
Selain makanan dan minuman, penggunaan suplemen herbal tanpa pengawasan juga dapat menimbulkan masalah bagi hati.
Baca Juga: Tak Hanya di Dapur, 5 Kegunaan Minyak Kelapa untuk Kecantikan
Salah satu yang mendapat perhatian dalam penelitian adalah suplemen kunyit atau kurkumin. Sejumlah laporan kasus dan penelitian telah mengaitkan penggunaan suplemen kunyit tertentu dengan cedera hati pada sebagian orang.
Risikonya juga dapat dipengaruhi oleh formulasi produk dan bahan tambahan yang meningkatkan penyerapan kurkumin, seperti piperine yang berasal dari lada hitam.
Beberapa bahan herbal lain juga pernah dikaitkan dengan cedera hati, termasuk ekstrak teh hijau dalam dosis tinggi, ashwagandha, Garcinia cambogia, beras ragi merah, dan black cohosh.
Baca Juga: 4 Makanan dan Minuman yang Bisa Membuat Anda Cepat Lelah
Hal ini berbeda dengan mengonsumsi kunyit atau teh sebagai bagian dari makanan dalam jumlah biasa. Risiko terutama menjadi perhatian pada suplemen atau ekstrak dengan dosis terkonsentrasi.
Jika setelah mengonsumsi suplemen muncul gejala seperti kulit atau mata menguning, urine berwarna gelap, mual berat, nyeri perut, atau kelelahan yang tidak biasa, seseorang sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan hati bukan berarti harus menghapus satu per satu makanan dari menu. Yang lebih penting adalah membatasi konsumsi gula tambahan dan makanan ultra-proses, mengutamakan makanan utuh, menjaga berat badan yang sehat, aktif bergerak, serta menghindari konsumsi alkohol berlebihan.
Pola makan secara keseluruhan jauh lebih menentukan dibanding satu jenis makanan yang dikonsumsi sesekali.***













