KESEHATAN

Bukan Sekadar Pencernaan, Ini 4 Hubungan Penting antara Usus dan Otak

×

Bukan Sekadar Pencernaan, Ini 4 Hubungan Penting antara Usus dan Otak

Sebarkan artikel ini
Bukan Sekadar Soal Pencernaan, Ini 4 Hubungan Penting antara Usus dan Otak
Kesehatan usus berkaitan erat dengan fungsi otak. (Foto: pixabay)

KESEHATAN – Ungkapan “percayai insting Anda” ternyata memiliki dasar biologis yang menarik. Sistem pencernaan dan otak terus berkomunikasi melalui jaringan saraf, hormon, sistem kekebalan tubuh, serta berbagai zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme di dalam usus.

Hubungan tersebut sering disebut sebagai gut-brain axis atau poros usus-otak. Karena adanya hubungan ini, gangguan pada sistem pencernaan tidak hanya menimbulkan masalah seperti kembung, diare, atau sakit perut, tetapi juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis dan fungsi kognitif.

Baca Juga: Dari Parepare hingga Palopo, LPS Bawa Program Kesehatan Gratis dan Donor Darah

Namun, bukan berarti setiap masalah mental atau kognitif pasti disebabkan oleh kondisi usus. Hubungan keduanya sangat kompleks dan masih terus diteliti.

Lantas, bagaimana kesehatan usus dapat memengaruhi otak?

1. Kesehatan Usus Berkaitan dengan Stres dan Kecemasan
Usus merupakan salah satu bagian penting dalam sistem komunikasi tubuh dengan otak. Salah satu jalur utama yang menghubungkan keduanya adalah saraf vagus, yang berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pencernaan dan respons terhadap stres.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Terlihat Baik tetapi Bisa Membebani Otak Tanpa Anda Sadari

Mikrobioma usus juga dapat berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh dan menghasilkan berbagai senyawa yang memengaruhi tubuh. Ketika terjadi ketidakseimbangan mikrobioma atau peradangan, komunikasi dalam poros usus-otak dapat ikut berubah.

Pola makan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi mikrobioma. Pola makan yang banyak mengandung makanan ultra-proses, gula tambahan, dan rendah serat cenderung kurang mendukung keberagaman mikrobioma dibandingkan pola makan yang kaya makanan utuh dan serat.

Sebaliknya, sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sumber serat lainnya dapat membantu mendukung mikroorganisme usus yang beragam.

Baca Juga: Tak Hanya di Dapur, 5 Kegunaan Minyak Kelapa untuk Kecantikan

Meski demikian, makanan tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya penyebab stres atau kecemasan. Faktor genetik, kualitas tidur, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi kesehatan, dan banyak faktor lainnya juga berperan.

2. Gangguan Pencernaan Dapat Berkaitan dengan “Brain Fog”
Pernah merasa sulit berkonsentrasi, berpikir lambat, atau seperti kehilangan kejernihan pikiran? Kondisi yang sering disebut “brain fog” dapat muncul karena berbagai faktor, dan salah satunya dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan tertentu pada saluran pencernaan.

Beberapa kondisi gastrointestinal seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, sindrom iritasi usus atau IBS, penyakit radang usus, serta pertumbuhan bakteri berlebih di usus kecil atau SIBO dapat disertai berbagai keluhan di luar sistem pencernaan.

Baca Juga: 4 Makanan dan Minuman yang Bisa Membuat Anda Cepat Lelah

Ahli gastroenterologi Eddie L. Copelin II menjelaskan bahwa gangguan mikrobioma dan masalah pencernaan tertentu dapat berkaitan dengan gejala seperti kabut otak dan sakit kepala, terutama ketika kondisi tersebut menyebabkan masalah penyerapan nutrisi atau dehidrasi.

Misalnya, diare berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Gangguan penyerapan nutrisi juga dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan.

Karena itu, jika brain fog muncul terus-menerus dan disertai keluhan seperti kembung, perubahan pola buang air besar, penurunan berat badan, atau sakit perut, jangan hanya menganggapnya sebagai kelelahan biasa.

Baca Juga: Sering Mengisi Ulang Botol Air Kemasan? 4 Bahaya Ini Perlu Anda Ketahui

3. Kondisi Usus Dapat Berhubungan dengan Kesehatan Mental
Hubungan antara usus dan kesehatan mental juga menjadi salah satu bidang penelitian yang berkembang pesat.

Mikrobioma usus berkomunikasi dengan otak melalui berbagai jalur, termasuk sistem saraf, sistem kekebalan, dan senyawa yang dihasilkan oleh bakteri usus. Karena itu, perubahan kondisi mikrobioma berpotensi berkaitan dengan respons stres dan kondisi emosional.

Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara kesehatan mikrobioma dengan kecemasan, depresi, stres, dan fungsi kognitif. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa gangguan pada usus secara otomatis menyebabkan depresi atau gangguan kecemasan.

Baca Juga: 5 Minuman Penenang yang Bisa Membantu Anda Tidur Lebih Nyenyak

Salah satu contoh kondisi pencernaan yang dapat memengaruhi kualitas hidup dan kondisi psikologis adalah gastroparesis. Kondisi ini menyebabkan pengosongan lambung berlangsung lebih lambat sehingga seseorang dapat mengalami cepat kenyang, mual, muntah, kembung, sendawa, dan nyeri perut.

Gejala tersebut dapat membuat seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan makanan dan berpotensi menyebabkan penurunan berat badan. Kondisi psikologis juga dapat memengaruhi nafsu makan dan fungsi pencernaan, sehingga hubungan antara kesehatan mental dan sistem pencernaan dapat berlangsung dua arah.

Jika gangguan pencernaan muncul bersamaan dengan perubahan suasana hati atau masalah kesehatan mental yang menetap, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebabnya.

Baca Juga: Tidak Sarapan Setiap Pagi? Waspadai 4 Dampak yang Bisa Muncul pada Tubuh

4. Peradangan dan Kesehatan Usus Berkaitan dengan Fungsi Kognitif
Hubungan antara kesehatan usus dan fungsi otak juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai penuaan dan penyakit neurodegeneratif.

Peradangan kronis dalam tubuh dapat berhubungan dengan proses peradangan pada sistem saraf atau neuroinflamasi. Para peneliti terus mempelajari apakah perubahan mikrobioma dan peradangan pada usus memiliki peran dalam proses tersebut.

Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi hubungan antara mikrobioma usus dengan penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, serta berbagai gangguan neurologis dan psikiatri. Namun, mekanisme hubungan tersebut masih belum sepenuhnya dipahami.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Jika Anda Mengonsumsi Tuna Lebih dari Dua Kali Seminggu?

Artinya, kesehatan usus tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menentukan apakah seseorang akan mengalami penurunan kognitif atau penyakit neurodegeneratif.

Meski demikian, menjaga sistem pencernaan tetap sehat merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Pola makan kaya serat, konsumsi makanan yang beragam, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, serta membatasi makanan ultra-proses dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang mendukung kesehatan usus.

Baca Juga: Diet Bebas Gluten? 5 Perubahan yang Mungkin Terjadi pada Tubuh Anda

Jika Anda mengalami keluhan pencernaan yang berlangsung lama, perubahan berat badan tanpa sebab jelas, darah pada tinja, muntah berulang, nyeri perut berat, atau gangguan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Pada akhirnya, hubungan antara usus dan otak bukan sekadar istilah populer. Keduanya memang berkomunikasi melalui berbagai jalur biologis yang kompleks. Namun, penelitian mengenai seberapa besar pengaruh mikrobioma terhadap kesehatan mental dan fungsi otak masih terus berkembang.***