KESEHATAN – Tuna menjadi salah satu pilihan makanan yang praktis untuk dikonsumsi sehari-hari. Ikan ini bisa diolah menjadi sandwich, salad, pasta, atau disantap langsung bersama makanan pendamping lainnya.
Namun, muncul pertanyaan penting bagi mereka yang gemar mengonsumsi tuna: apakah aman jika dimakan lebih dari dua kali dalam seminggu?
Baca Juga: Diet Bebas Gluten? 5 Perubahan yang Mungkin Terjadi pada Tubuh Anda
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kandungan merkuri pada sejumlah jenis ikan. Menurut ahli toksikologi medis Kelly Johnson-Arbor, MD, ikan memang memiliki banyak manfaat kesehatan, tetapi beberapa jenis ikan, termasuk tuna, cenderung memiliki kadar merkuri lebih tinggi dibandingkan ikan berukuran kecil.
1. Tuna Tetap Memiliki Banyak Manfaat untuk Kesehatan
Sebelum membahas risiko merkuri, penting diketahui bahwa ikan merupakan bagian dari pola makan sehat. Tuna mengandung sejumlah nutrisi penting, termasuk protein, asam lemak omega-3, kolin dan zat besi.
Nutrisi tersebut berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk mendukung kesehatan jantung, perkembangan otak dan kesehatan secara keseluruhan.
Baca Juga: Sering Disepelekan, 5 Kebiasaan Penting untuk Menjaga Fungsi Ginjal
Karena itu, kekhawatiran mengenai merkuri bukan berarti seseorang harus menghindari ikan sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memilih jenis ikan yang tepat dan mengatur jumlah serta frekuensi konsumsinya.
2. Tuna Bisa Mengandung Lebih Banyak Merkuri
Merkuri dapat masuk ke lingkungan perairan melalui proses alami maupun aktivitas industri. Ketika berada di dalam air, merkuri dapat dikonsumsi oleh organisme air dan kemudian terakumulasi sepanjang rantai makanan.
Ikan yang berukuran lebih besar dan berada di tingkat lebih tinggi dalam rantai makanan, seperti tuna, ikan todak dan hiu, cenderung memiliki kadar merkuri lebih tinggi dibandingkan ikan yang lebih kecil.
Baca Juga: 5 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Menyeruput Kopi di Pagi Hari
Merkuri yang ditemukan pada ikan umumnya berupa metilmerkuri, yaitu bentuk merkuri yang dapat berdampak pada sistem saraf.
Risiko terbesar terutama menjadi perhatian ketika seseorang terpapar dalam jumlah tinggi, khususnya pada masa perkembangan otak.
3. Sebagian Besar Orang Dewasa Sehat Tidak Perlu Panik
Bagi orang dewasa yang sehat dan tidak sedang hamil atau menyusui, konsumsi tuna dalam jumlah yang wajar umumnya tidak perlu menjadi alasan untuk panik.
Baca Juga: Fast Food Sekali Seminggu, Apakah Aman? Ini Risiko yang Perlu Anda Waspadai
Johnson-Arbor menjelaskan bahwa orang dewasa yang sesekali mengonsumsi ikan dengan kandungan merkuri lebih tinggi kemungkinan kecil mengalami gejala keracunan merkuri. Manfaat nutrisi dari konsumsi ikan pada umumnya tetap penting.
Namun, jenis tuna juga perlu diperhatikan. Tuna albacore atau tuna putih diketahui memiliki kandungan merkuri lebih tinggi dibandingkan tuna ringan.
Panduan konsumsi ikan dari otoritas kesehatan Amerika Serikat membedakan batas konsumsi berdasarkan jenis ikan dan kelompok risiko. Tuna ringan umumnya termasuk pilihan dengan kadar merkuri lebih rendah dibandingkan tuna albacore.
Baca Juga: 8 Tanaman Hias yang Bisa Membantu Meningkatkan Kesehatan Mental
Karena itu, jika tuna menjadi bagian rutin dari menu mingguan, sebaiknya tidak hanya memperhatikan jumlah porsi, tetapi juga jenis tuna yang dikonsumsi.
4. Ibu Hamil dan Anak-Anak Perlu Lebih Berhati-hati
Metilmerkuri menjadi perhatian khusus bagi janin, bayi dan anak-anak karena otak mereka masih berkembang.
Paparan merkuri dalam jumlah tinggi selama kehamilan dapat berdampak pada perkembangan sistem saraf janin. Bahkan, seseorang yang terpapar merkuri mungkin tidak menunjukkan gejala keracunan, tetapi paparan tersebut tetap dapat berisiko bagi janin.
Baca Juga: Cuaca Makin Panas? Hindari 4 Jenis Minuman Ini Bisa Memperparah Dehidrasi
Karena itu, ibu hamil, perempuan yang sedang merencanakan kehamilan, ibu menyusui, bayi dan anak-anak perlu mengikuti panduan konsumsi ikan berdasarkan jenis dan kandungan merkurinya.
Bukan berarti kelompok tersebut harus menghindari ikan. Justru, ikan tetap menyediakan nutrisi penting. Kuncinya adalah memilih jenis ikan yang lebih rendah merkuri dan mengatur porsinya.
5. Mengonsumsi Tuna Berlebihan Bukan Pilihan yang Tepat
Makan tuna lebih dari dua kali dalam seminggu tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami keracunan merkuri. Risiko sangat dipengaruhi jenis tuna, jumlah yang dikonsumsi, pola makan secara keseluruhan dan kondisi individu.
Baca Juga: Tak Perlu Gym Setiap Hari, 5 Manfaat Jalan Kaki Rutin yang Bisa Dirasakan dalam Sebulan
Meski demikian, menjadikan tuna sebagai satu-satunya pilihan ikan setiap hari bukanlah kebiasaan yang ideal. Mengombinasikan tuna dengan berbagai jenis ikan lain yang rendah merkuri dapat membantu mendapatkan beragam nutrisi sekaligus mengurangi paparan dari satu jenis ikan tertentu.
Jika seseorang, terutama anak, diketahui mengonsumsi tuna atau ikan berkadar merkuri tinggi dalam jumlah berlebihan dan muncul kekhawatiran mengenai paparan merkuri, konsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan langkah yang tepat.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan untuk menilai kemungkinan paparan merkuri.
Baca Juga: Tetap Fit Saat Suhu Terik, Ini 8 Tips Aman Berolahraga di Tengah Cuaca Panas
Jadi, Apakah Boleh Makan Tuna Lebih dari Dua Kali Seminggu?
Jawabannya bergantung pada jenis tuna dan siapa yang mengonsumsinya. Untuk orang dewasa sehat, konsumsi tuna sesekali di atas jumlah yang dianjurkan kemungkinan kecil menimbulkan masalah kesehatan serius.
Namun, kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak-anak perlu lebih cermat mengikuti rekomendasi konsumsi ikan.
Yang juga penting, jangan hanya terpaku pada tuna. Mengonsumsi beragam jenis ikan dengan kandungan merkuri rendah merupakan cara yang lebih baik untuk mendapatkan manfaat ikan sambil membatasi paparan metilmerkuri.***













