KESEHATAN

5 Kebiasaan yang Terlihat Baik tetapi Bisa Membebani Otak Tanpa Anda Sadari

×

5 Kebiasaan yang Terlihat Baik tetapi Bisa Membebani Otak Tanpa Anda Sadari

Sebarkan artikel ini
5 Kebiasaan yang Terlihat Baik tetapi Bisa Membebani Otak Tanpa Anda Sadari
Jaga otak dengan kebiasaan yang tepat. (Foto: pixabay)

KESEHATAN – Menjaga kesehatan otak tidak hanya dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga. Kebiasaan sehari-hari seperti cara bekerja, bersosialisasi, menggunakan perangkat audio, hingga aktivitas untuk melatih otak juga dapat memengaruhi fungsi kognitif.

Menariknya, beberapa aktivitas yang terlihat positif bahkan sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat ternyata perlu dilakukan secara bijak. Jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa memperhatikan kondisi tubuh, kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan masalah.

Baca Juga: Tak Hanya di Dapur, 5 Kegunaan Minyak Kelapa untuk Kecantikan

Berikut lima kebiasaan yang perlu diperhatikan jika Anda ingin menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

1. Terlalu Sering Melakukan Multitasking
Mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus mungkin terasa seperti cara tercepat untuk menghemat waktu. Misalnya, membalas pesan sambil berjalan, mendengarkan podcast sambil bekerja, atau berpindah-pindah tugas setiap beberapa menit.

Namun, otak sebenarnya tidak melakukan banyak tugas secara bersamaan dengan efisien. Sebaliknya, otak harus terus berpindah fokus dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.

Baca Juga: 4 Makanan dan Minuman yang Bisa Membuat Anda Cepat Lelah

Kebiasaan tersebut dapat membuat konsentrasi lebih mudah terpecah dan meningkatkan beban mental. Dalam jangka panjang, terlalu sering berpindah tugas juga dapat membuat seseorang merasa lebih cepat lelah secara mental.

Sebagai gantinya, cobalah menerapkan fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu. Matikan notifikasi yang tidak diperlukan dan berikan waktu tertentu untuk mengerjakan satu tugas tanpa gangguan.

Bahkan periode fokus singkat, misalnya 20 hingga 30 menit, dapat menjadi cara sederhana untuk membangun kebiasaan bekerja dengan perhatian yang lebih terarah.

Baca Juga: Sering Mengisi Ulang Botol Air Kemasan? 4 Bahaya Ini Perlu Anda Ketahui

2. Melewatkan Waktu Makan Tanpa Perencanaan Nutrisi
Puasa intermiten semakin populer karena dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan. Namun, menjalani pola makan dengan membatasi waktu makan bukan berarti seseorang boleh mengabaikan kebutuhan nutrisi.

Tubuh dan otak tetap membutuhkan energi serta berbagai zat gizi untuk menjalankan fungsi normal. Masalah dapat muncul ketika seseorang terlalu sering melewatkan makan tetapi tidak memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi pada waktu makan berikutnya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 melaporkan adanya hubungan antara kebiasaan melewatkan sarapan dan penurunan kognitif. Namun, hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa melewatkan sarapan secara langsung menyebabkan penurunan fungsi otak.

Baca Juga: 5 Minuman Penenang yang Bisa Membantu Anda Tidur Lebih Nyenyak

Karena itu, jika ingin mencoba puasa intermiten, penting untuk memperhatikan kualitas makanan selama periode makan. Pastikan kebutuhan protein, serat, vitamin, mineral, lemak sehat, dan energi tetap terpenuhi.

Bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, sedang mengonsumsi obat, hamil, atau memiliki kebutuhan nutrisi khusus, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan pola makan yang sesuai.

3. Kurang Memberi Waktu untuk Bersosialisasi
Membaca buku, menonton dokumenter, mengerjakan teka-teki, atau mempelajari sesuatu yang baru memang dapat memberikan stimulasi mental. Namun, jangan sampai aktivitas tersebut membuat hubungan sosial terabaikan.

Baca Juga: Tidak Sarapan Setiap Pagi? Waspadai 4 Dampak yang Bisa Muncul pada Tubuh

Interaksi dengan orang lain merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Berbicara dengan teman, bertemu keluarga, mengikuti kegiatan komunitas, atau melakukan aktivitas bersama dapat memberikan stimulasi emosional dan kognitif.

Penelitian yang dirangkum National Institute on Aging pada 2025 menunjukkan adanya hubungan antara kesepian dan peningkatan risiko demensia. Namun, seperti banyak penelitian observasional lainnya, temuan tersebut menunjukkan hubungan atau asosiasi dan tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat.

Karena itu, luangkan waktu untuk menjaga hubungan sosial. Pertemuan langsung, percakapan melalui video, mengikuti komunitas, menjadi sukarelawan, atau sekadar berjalan bersama teman dapat menjadi pilihan sederhana.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Jika Anda Mengonsumsi Tuna Lebih dari Dua Kali Seminggu?

Yang terpenting bukan seberapa banyak orang yang Anda kenal, melainkan adanya interaksi sosial yang bermakna dan dilakukan secara konsisten.

4. Menggunakan Earbud Terlalu Lama atau dengan Volume Terlalu Tinggi
Mendengarkan musik, podcast, atau audiobook melalui earbud memang dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun, kebiasaan tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan volume dan durasi.

Paparan suara keras secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran. Masalah pendengaran sendiri telah menjadi salah satu faktor yang banyak dibahas dalam kaitannya dengan risiko penurunan kognitif dan demensia.

Baca Juga: Diet Bebas Gluten? 5 Perubahan yang Mungkin Terjadi pada Tubuh Anda

Gangguan pendengaran dapat membuat seseorang lebih sulit mengikuti percakapan dan berinteraksi dengan lingkungan. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut juga dapat meningkatkan beban kognitif yang diperlukan untuk memahami suara.

Salah satu langkah sederhana adalah menjaga volume pada tingkat yang aman dan memberikan waktu istirahat bagi telinga. Hindari menggunakan earbud dengan volume sangat tinggi dalam waktu lama.

Jika Anda mulai mengalami telinga berdenging, kesulitan mendengar percakapan, atau merasa harus terus menaikkan volume perangkat, sebaiknya periksakan pendengaran kepada tenaga kesehatan.

Baca Juga: Sering Disepelekan, 5 Kebiasaan Penting untuk Menjaga Fungsi Ginjal

5. Terlalu Mengandalkan Permainan Otak
Permainan teka-teki, aplikasi latihan otak, dan permainan memori memang dapat menjadi hiburan sekaligus aktivitas yang menantang pikiran. Namun, tidak semua permainan memberikan manfaat kognitif yang sama.

Dr. Oana Dumitrascu, ahli neurologi vaskular dan asisten profesor Neurologi di Cedars-Sinai, menjelaskan bahwa aktivitas yang terlalu mudah dan dilakukan berulang-ulang belum tentu memberikan tantangan yang cukup bagi otak.

Agar aktivitas mental tetap memberikan stimulasi, seseorang dapat mencoba hal-hal baru yang secara bertahap meningkatkan tingkat kesulitannya.

Baca Juga: 5 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Menyeruput Kopi di Pagi Hari

Belajar bahasa baru, memainkan alat musik, mempelajari keterampilan baru, membaca topik yang belum dikenal, atau berlatih meditasi dapat menjadi alternatif untuk memberikan variasi stimulasi mental.

Namun, permainan otak bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Aktivitas tersebut tetap dapat menjadi bagian dari hiburan dan stimulasi kognitif, selama tidak dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menjaga kesehatan otak.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Tidur yang cukup, aktivitas fisik, pola makan seimbang, hubungan sosial, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala semuanya dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Tidak ada satu kebiasaan yang dapat menjamin seseorang terbebas dari penurunan kognitif atau demensia. Namun, mengurangi kebiasaan yang berpotensi merugikan dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih seimbang dapat menjadi langkah yang masuk akal untuk menjaga fungsi otak sepanjang usia.***