KESEHATAN – Bagi sebagian orang, secangkir kopi menjadi bagian penting dari rutinitas sehari-hari. Kandungan kafein di dalamnya dikenal dapat meningkatkan kewaspadaan dan membantu mengurangi rasa kantuk.
Kini, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Pharmacology menambah temuan menarik mengenai kemungkinan hubungan antara kafein, stres, mikrobiota usus, dan fungsi otak.
Baca Juga: Wagub Reny Perkuat Sinergi BPJS, 217 Ribu Warga Nikmati Berani Sehat
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa pemberian kafein sebelum tikus mengalami stres kronis dapat membantu mencegah sejumlah perubahan perilaku dan biologis yang berkaitan dengan depresi.
Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi. Penelitian ini dilakukan pada tikus, bukan manusia. Karena itu, hasilnya belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa minum kopi secara langsung dapat mencegah depresi pada manusia.
Peneliti Menguji Pengaruh Kafein terhadap Respons Stres
Para peneliti menggunakan model stres kronis yang tidak dapat diprediksi untuk melihat bagaimana kafein memengaruhi respons tubuh terhadap tekanan berkepanjangan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pencernaan, Ini 4 Hubungan Penting antara Usus dan Otak
Tikus dibagi menjadi beberapa kelompok. Salah satu kelompok menerima kafein setiap hari sebelum mendapatkan paparan stres, sementara kelompok lainnya menjalani protokol stres tanpa mendapatkan kafein. Ada pula kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan tersebut.
Desain penelitian ini memungkinkan para peneliti melihat apakah pemberian kafein sebelum munculnya kondisi stres dapat membantu mencegah perubahan yang berkaitan dengan depresi, bukan sekadar mengurangi gejala setelah kondisi tersebut terjadi.
Para peneliti kemudian melakukan beberapa pengujian perilaku. Mereka juga mengamati perubahan berat badan, mikrobiota usus, serta tanda-tanda peradangan di dalam tubuh dan hipokampus.
Baca Juga: Dari Parepare hingga Palopo, LPS Bawa Program Kesehatan Gratis dan Donor Darah
Hipokampus merupakan bagian otak yang memiliki peran penting dalam pembelajaran dan memori serta berkaitan dengan respons terhadap stres.
Tikus yang Mendapat Kafein Menunjukkan Perubahan yang Lebih Kecil
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara tikus yang menerima kafein dan tikus yang mengalami stres tanpa perlakuan.
Tikus yang tidak mendapatkan kafein mengalami beberapa perubahan perilaku, termasuk penurunan berat badan, berkurangnya aktivitas eksplorasi, serta berkurangnya ketertarikan terhadap air manis yang digunakan dalam salah satu pengujian perilaku.
Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Terlihat Baik tetapi Bisa Membebani Otak Tanpa Anda Sadari
Sementara itu, tikus yang mendapatkan kafein sebelum paparan stres cenderung mempertahankan berat badan, aktivitas, dan preferensi terhadap air manis.
Temuan tersebut oleh peneliti ditafsirkan sebagai indikasi bahwa kafein mungkin memiliki efek protektif terhadap beberapa perubahan perilaku yang muncul dalam model stres kronis tersebut.
Namun, perilaku tikus dalam eksperimen tidak dapat disamakan secara langsung dengan diagnosis depresi pada manusia.
Baca Juga: Tak Hanya di Dapur, 5 Kegunaan Minyak Kelapa untuk Kecantikan
Kafein Juga Dikaitkan dengan Perubahan pada Usus
Salah satu bagian menarik dari penelitian ini adalah hubungan antara kafein dan poros usus-otak atau gut-brain axis.
Pada tikus yang mengalami stres tanpa kafein, peneliti menemukan perubahan pada mikrobiota usus serta tanda-tanda gangguan pada integritas sawar usus.
Sawar usus merupakan lapisan pelindung yang membantu mengontrol zat apa saja yang dapat melewati dinding usus menuju jaringan tubuh.
Baca Juga: 4 Makanan dan Minuman yang Bisa Membuat Anda Cepat Lelah
Penelitian tersebut juga menemukan perubahan pada beberapa kelompok bakteri. Salah satunya adalah peningkatan bakteri dari kelompok Escherichia-Shigella, sementara kadar Enterorhabdus mengalami penurunan.
Perubahan mikrobiota tersebut disertai tanda-tanda yang menunjukkan meningkatnya peradangan. Sebaliknya, sejumlah perubahan tersebut tidak terlihat dengan tingkat yang sama pada tikus yang menerima kafein.
Temuan ini membuat para peneliti menduga bahwa efek kafein terhadap respons stres mungkin tidak hanya berkaitan dengan otak, tetapi juga melibatkan kondisi mikrobiota dan fungsi penghalang usus.
Baca Juga: Sering Mengisi Ulang Botol Air Kemasan? 4 Bahaya Ini Perlu Anda Ketahui
Kafein dan Peradangan di Hipokampus
Para peneliti juga menemukan perbedaan pada kondisi hipokampus antara kelompok tikus.
Pada tikus yang mengalami stres tanpa perlakuan kafein, ditemukan peningkatan tanda-tanda peradangan di wilayah tersebut. Selain itu, terdapat penurunan protein yang berkaitan dengan dukungan terhadap pertumbuhan dan fungsi sel saraf.
Sementara itu, hipokampus tikus yang menerima kafein tampak lebih terlindungi dari perubahan tersebut.
Baca Juga: 5 Minuman Penenang yang Bisa Membantu Anda Tidur Lebih Nyenyak
Berdasarkan seluruh temuan, peneliti menyimpulkan bahwa pemberian kafein sebelum paparan stres mungkin memiliki efek pencegahan terhadap perubahan yang berkaitan dengan depresi melalui mekanisme yang melibatkan mikrobiota usus, integritas sawar usus, dan neuroinflamasi.
Bukan Berarti Kopi Terbukti Mencegah Depresi pada Manusia
Meski hasil penelitian tersebut menarik, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa minum kopi merupakan cara untuk mencegah depresi.
Penelitian ini menggunakan tikus sebagai model eksperimen. Dosis kafein, mekanisme biologis, serta respons tubuh tikus tidak selalu sama dengan manusia.
Baca Juga: Tidak Sarapan Setiap Pagi? Waspadai 4 Dampak yang Bisa Muncul pada Tubuh
Selain itu, kopi bukan hanya mengandung kafein. Jenis kopi, jumlah yang dikonsumsi, waktu konsumsi, tambahan gula atau krimer, serta kondisi kesehatan seseorang juga dapat memengaruhi dampaknya.
Kafein juga dapat menyebabkan efek yang tidak menyenangkan pada sebagian orang, terutama jika dikonsumsi berlebihan.
Gangguan tidur, jantung berdebar, rasa gelisah, dan peningkatan kecemasan dapat terjadi pada individu yang sensitif terhadap kafein.
Baca Juga: Apa yang Terjadi Jika Anda Mengonsumsi Tuna Lebih dari Dua Kali Seminggu?
Karena itu, penelitian pada manusia masih diperlukan untuk mengetahui apakah mekanisme yang ditemukan pada tikus benar-benar berlaku pada manusia dan apakah konsumsi kafein dalam jumlah tertentu dapat memberikan manfaat terhadap risiko depresi.
Jika seseorang mengalami kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, perubahan tidur atau nafsu makan, maupun gejala depresi lainnya, kopi tidak seharusnya dijadikan pengganti penanganan profesional.
Berbicara dengan dokter, psikolog, atau profesional kesehatan mental dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.***













