KESEHATAN

Studi Ungkap 6 Bahan Nabati Kaya Antioksidan yang Baik untuk Kesehatan Otak

×

Studi Ungkap 6 Bahan Nabati Kaya Antioksidan yang Baik untuk Kesehatan Otak

Sebarkan artikel ini
Studi Ungkap 6 Bahan Nabati Kaya Antioksidan yang Baik untuk Kesehatan Otak
Pilihan alami untuk mendukung kesehatan otak. (Foto: AI)

KESEHATAN – Menjaga kesehatan otak tidak hanya berkaitan dengan tetap aktif secara fisik, cukup tidur, dan menghindari kebiasaan seperti merokok. Pola makan juga memiliki peran penting karena berbagai makanan menyediakan vitamin, mineral, serat, serta senyawa tumbuhan yang dapat mendukung fungsi tubuh.

Salah satu kelompok senyawa yang banyak diteliti adalah antioksidan atau fitokimia. Senyawa ini dapat membantu tubuh menghadapi stres oksidatif yang terjadi ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan sistem pertahanan antioksidan tubuh.

Baca Juga: Ahli Gastroenterologi Ungkap 5 Buah Kaya Magnesium dan Baik untuk Pencernaan

Stres oksidatif sendiri telah dikaitkan dengan berbagai proses yang memengaruhi kesehatan dan penuaan. Namun, penting dicatat bahwa mengonsumsi makanan kaya antioksidan tidak otomatis berarti seseorang terbebas dari penyakit otak atau penyakit neurodegeneratif.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Food & Function meneliti senyawa antioksidan tertentu pada sejumlah bahan nabati dan kaitannya dengan aktivitas antioksidan.

Hasilnya menyoroti enam bahan pangan dan herbal yang menarik untuk diperhatikan.

Baca Juga: 2 Jenis Kacang Dikaitkan dengan Kesehatan Jantung dan Metabolisme

1. Plum Queen Garnet
Queen Garnet merupakan varietas plum yang dikembangkan di Australia dan dikenal memiliki kandungan antosianin yang tinggi. Antosianin merupakan kelompok pigmen tumbuhan yang juga memiliki aktivitas antioksidan.

Dalam penelitian tersebut, Queen Garnet termasuk bahan dengan kadar senyawa fenolik yang tinggi.

Senyawa fenolik, termasuk sejumlah turunan quercetin, menjadi perhatian peneliti karena aktivitas antioksidannya. Secara teori, senyawa tersebut dapat membantu mengurangi kerusakan sel akibat stres oksidatif.

Baca Juga: 3 Makanan yang Bisa Meningkatkan Risiko Masalah Hati

Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa mengonsumsi Queen Garnet dapat mencegah Alzheimer, demensia, atau penyakit neurodegeneratif lainnya.

2. Lada Hitam
Lada hitam ternyata tidak hanya berfungsi sebagai bumbu untuk memberikan rasa pedas pada makanan. Bahan ini juga mengandung berbagai senyawa tumbuhan, termasuk kelompok terpen.

Dalam penelitian tersebut, lada hitam memiliki kadar terpen yang paling tinggi dibandingkan bahan nabati lainnya yang diteliti.

Baca Juga: Ahli Gastroenterologi Ungkap 7 Minuman yang Bisa Mendukung Kesehatan Hati

Terpen merupakan kelompok senyawa yang berperan memberikan aroma dan karakteristik pada berbagai tanaman. Sejumlah terpen juga memiliki aktivitas biologis yang sedang diteliti, termasuk aktivitas antioksidan.

Menambahkan lada hitam secukupnya ke dalam makanan dapat menjadi cara sederhana untuk meningkatkan variasi rempah dalam pola makan sehari-hari.

3. Cengkeh
Cengkeh menjadi salah satu bahan dengan kandungan senyawa fenolik yang tinggi dalam penelitian tersebut. Rempah yang sering digunakan dalam masakan dan minuman ini juga mengandung berbagai senyawa bioaktif.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pengusir Kantuk, Kafein Diteliti untuk Melawan Dampak Stres

Cengkeh termasuk sumber senyawa antioksidan yang cukup kuat. Kandungan tersebut membuatnya menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan stres oksidatif dan peradangan.

Meski demikian, cengkeh sebaiknya digunakan sebagai rempah dalam jumlah wajar. Mengonsumsi minyak cengkeh atau ekstraknya dalam dosis tinggi bukan berarti memberikan manfaat yang lebih besar dan justru dapat menimbulkan risiko tertentu.

4. Elderberry
Elderberry merupakan buah yang kaya senyawa tumbuhan, termasuk kelompok fenolik. Buah ini juga sering digunakan dalam berbagai produk minuman maupun suplemen.

Baca Juga: Wagub Reny Perkuat Sinergi BPJS, 217 Ribu Warga Nikmati Berani Sehat

Dalam penelitian tersebut, elderberry termasuk bahan dengan kandungan fenolik yang tinggi.

Senyawa antioksidan pada elderberry berpotensi membantu melindungi sel dari stres oksidatif. Namun, bukti mengenai manfaat spesifik elderberry terhadap fungsi otak manusia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Jika dikonsumsi sebagai produk olahan, perhatikan pula kandungan gula tambahannya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pencernaan, Ini 4 Hubungan Penting antara Usus dan Otak

5. Sage
Sage merupakan tanaman herbal yang banyak digunakan sebagai bumbu. Selain memberikan aroma khas, sage mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk kelompok terpen.

Dalam penelitian tersebut, sage menunjukkan kandungan terpen yang cukup tinggi. Terpen dan senyawa tumbuhan lainnya sedang diteliti karena kemungkinan aktivitas antioksidan dan anti-inflamasinya. Hal ini membuat berbagai herbal seperti sage menarik untuk diteliti dalam konteks kesehatan otak.

Namun, hasil penelitian laboratorium atau analisis senyawa tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi bukti bahwa mengonsumsi sage akan meningkatkan fungsi otak pada manusia.

Baca Juga: Dari Parepare hingga Palopo, LPS Bawa Program Kesehatan Gratis dan Donor Darah

6. Lemon Balm
Lemon balm merupakan tanaman dari keluarga mint yang telah lama digunakan sebagai bahan teh herbal. Tanaman ini juga mengandung berbagai senyawa fenolik dan terpen.

Dalam penelitian tersebut, lemon balm menjadi salah satu bahan yang dianalisis karena kandungan senyawa bioaktifnya.

Lemon balm dapat dikonsumsi sebagai teh, tetapi penggunaan ekstrak atau suplemen dalam dosis tinggi perlu diperhatikan karena konsentrasi senyawanya berbeda dengan penggunaan tanaman sebagai bahan makanan atau minuman.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Terlihat Baik tetapi Bisa Membebani Otak Tanpa Anda Sadari

Bagaimana dengan Suplemen?
Penelitian tersebut juga mengamati dua campuran suplemen yang tersedia secara bebas, salah satunya kaya ekstrak astragalus dan lainnya mengandung ekstrak lemon balm.

Campuran yang mengandung astragalus menunjukkan kadar senyawa fenolik yang tinggi.

Namun, temuan mengenai kandungan antioksidan tidak sama dengan bukti manfaat klinis. Suplemen yang memiliki kadar senyawa tertentu tinggi belum tentu terbukti dapat mencegah penyakit Alzheimer, demensia, atau gangguan neurodegeneratif lainnya.

Baca Juga: Tak Hanya di Dapur, 5 Kegunaan Minyak Kelapa untuk Kecantikan

Selain itu, suplemen herbal dapat berinteraksi dengan obat tertentu dan tidak selalu cocok untuk semua orang. Karena itu, penggunaan suplemen dalam dosis tinggi sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Pola Makan Secara Keseluruhan Tetap Menjadi Kunci
Temuan penelitian ini memberikan gambaran menarik mengenai potensi senyawa tumbuhan dalam mendukung pertahanan antioksidan tubuh. Namun, kesehatan otak tidak ditentukan oleh satu jenis makanan atau herbal.

Pola makan yang beragam dengan banyak buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, sumber protein berkualitas, serta lemak sehat merupakan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Baca Juga: Sering Mengisi Ulang Botol Air Kemasan? 4 Bahaya Ini Perlu Anda Ketahui

Aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, tidak merokok, mengendalikan tekanan darah dan gula darah, serta menjaga hubungan sosial juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak.

Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah senyawa yang menunjukkan aktivitas antioksidan di laboratorium benar-benar menghasilkan manfaat klinis terhadap fungsi otak dan risiko penyakit neurodegeneratif pada manusia.***